MAKALAH
MANAJEMEN
PRODUKSI DAN PEMASARAN
‘’Perencanaan
Kapasitas Produksi dan Pengendalian Persediaan (Inventory)’’
Oleh:
PUTRI SULHAM WIJAYA
D1C1 13 071
TPG B 2014
JURUSAN ILMU DAN
TENOLOGI PANGAN
FAKULTAS
TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU
OLEO
KENDARI
2016
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat limpahan karunia-Nya, Penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah manajemen produksi
dan pemasaran yang berjudul “Perencanaan Kapasitas Produksi dan Pengendalian
Persediaan (Inventory)”
Penulis menyadari bahwa makalah ini
tidak luput
dari kesalahan dan kekurangan entah
penulisn maupun kata. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak terutama para pembaca makalah
ini dengan harapan kesempurnaan makalah yang akan datang.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Kendari, Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL....................................................................................... i
KATA
PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................... …….... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang ......................................................................................... 2
1.2 Rumusan
Masalah.....................................................................................
2
1.3 Tujuan dan Manfaat..................................................................................
3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian kapasitas produksi................................................................... 4
2.2 perencanaan kapasitas jangka pendek ..................................................... 4
2.3 perencanaan kapsiatas jangka panjang...................................................... 6
2.4 Metode
Perencanaan kapasitas produksi................................................... 7
2.5 perencanaan kapasitas............................................................................... 10
2.5.1 Strategi dalam perencanaan kapasitas produksi.............................. 10
2.5.2. Strategi dalam perencanaan Agregat dalam proses produksi... 10
2.6. Definisi persediaaan.......................................................................................
11
2.7. Jenis dan Fungsi persediaan......................................................................
12
2.7.1. jenis persedian................................................................................. 13
2.7.8. fungsi-fungsi persediaan.............................................................
15
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan..................................................................................................... 21
3.2. Saran............................................................................................................... 22
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... 23
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam memasuki Era pasar bebas dimasa ini semua perusahaan yang
bergerak di bidang industri dihadapkan pada suatu masalah yaitu adanya tingkat
persaingan yang kompetitif. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk merencanakan
kapasitas produksi agar dapat memenuhi permintaan pasar dengan tepat waktu dan
dengan jumlah yang sesuai, sehingga diharapkan keuntungan perusahaan akan
meningkat. Selain itu Perusahaan juga harus mengendalikan persediaan bahan baku yang dibutuhkan hendaknya cukup
tersedia sehingga dapat menjamin kelancaran produksi. Akan tetapi hendaknya
kuantitas persediaan itu jangan terlalu besar agar modal yang tertanam dalam
persediaan dan biaya-biaya yang ditimbulkannya dengan adanya persediaan juga
tidak terlalu besar dan jangan pula terlalu kecil karena dapat memperlambat
proses produksi.
Kapasitas adalah jumlah dari keluaran maksimum yang bisa
dihasilkan
oleh suatu fasilitas dalam satu periode waktu tertentu dan dinyatakan dalam
jumlah keluaran per satuan waktu. Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen akan
produk, perusahaan perlu memperhatikan perencanaan kapasitas dan pengendalian
aktivitas produksi yang harus dilakukan dalam pemenuhan order di pasar. Karena
tanpa adanya perencanaan kapasitas dan pengendalian aktivitas produksi yang
tepat, maka bukan tidak mungkin akan terjadi over produksi (produksi yang
berlebihan) ataupun low produksi (kekurangan produksi) dalam proses
produksinya.
oleh suatu fasilitas dalam satu periode waktu tertentu dan dinyatakan dalam
jumlah keluaran per satuan waktu. Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen akan
produk, perusahaan perlu memperhatikan perencanaan kapasitas dan pengendalian
aktivitas produksi yang harus dilakukan dalam pemenuhan order di pasar. Karena
tanpa adanya perencanaan kapasitas dan pengendalian aktivitas produksi yang
tepat, maka bukan tidak mungkin akan terjadi over produksi (produksi yang
berlebihan) ataupun low produksi (kekurangan produksi) dalam proses
produksinya.
Pengendalian
persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan
fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva
lancer. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan,
menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai
“opportunity cost” yang lebih besar. Demikian pula, bila perusahaan tidak mempunyai
persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya – biaya terjadinya
kekurangan bahan.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat pada penyusunan makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian kapasitas produksi
2. Menjelaskan perencanaan kapasitas jangka pendek
3. Menjelaskan kapasitas jangka panjang
4. Menjelaskan metode perencanaan
kapasitas produksi
5. Menjelaskan perencanaan kapsitas
6. Menjelaskan fungsi persediaan
7. Menjelaskan metode manajemen
persediaan
1.3 Tujuan
dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari makalah ini
yaitu: untuk menambah pengetahuan pembaca tentang perencanaan kapasitas dan
pengendalian persedian yang dimana terdiri dari pengertian kapasitas produksi, perencanaan kapasitas jangka pendek, kapasitas jangka panjang, metode perencanaan kapasitas
produksi, perencanaan kapasitas, fungsi persediaan dan metode manajemen persediaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kapasitas
Produksi
Kapasitas adalah kemampuan pembatas
dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu, dan biasanya
dinyatakan dalam bentuk keluaran (output) per satuan waktu. Menurut Chase
dan Aquilano (1955).Chase serta Russel Taylor (2000), kapasitas merupakan
jumlah keluaran yang dapat dihasilkan oleh suatu sistem produksi dalam
cakrawala waktu tertentu, yaitu selama satu tahun atau dalam beberapa tahun mendatang. Menurut Yamit (2003), perencanaan kapasitas produksi adalah
jumlah maksimum output yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu.
Contoh : bus mempunyai kapasitas kursi 40 sekali jalan, pabrik pupuk mempunyai
kapasitas 100.000 kg sekali produksi.
Kapasitas produksi dapat diartikan
sebagai jumlah maksimum output yang dapat diproduksi atau dihasilkan dalam
satuan waktu tertentu, misalnya sebuah pesawat airbus boing 737 memiliki
kapasitas tempat duduk 300 seat setiap kali trip, atau sebuah Rumah Sakit
memiliki kapasitas rawat inap sebanyak 50 kamar, dan sebagainya. Kapasitas produksi tersebut
ditentukan berdasarkan kapasitas sumber daya yang dimiliki antara lain :
kapasitasi mesin, kapasitas tenaga kerja, kapasitas bahan baku, kapasitas
modal. Kapasitas produksi juga berkaitan erat dengan skedul atau jadwal
produksi yang tertuang dalam jadwal produksi induk (master production shedule),
karena jadwal produksi induk mencerminkan apa dan berapa yang harus diproduksi
dalam jangka waktu tertentu. Kapasitas produksi dikaitkan dengan kapasitas
sumber daya yang dimiliki seperti :
a. Kapasitas tenaga kerja
b. Kapasitas mesin
c. Kapasitas bahan baku
d. Kapasitas modal
Berbagai definisi kapasitas secara
umun dapat diperinci sebagai berikut :
1. Design capacity, yaitu tingkat keluaran per satuan waktu untuk mana
pabrik dirancang.
2.
Rated capacity, yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang menunjukan
bahwa fasilitas secara teoritik mempunyai kemampuan memproduksinya. ( Biasanya
lebih besar daripada design capacity
karena perbaikan-perbaikan periodic dilakukan terhadap mesin-mesin atau
proses-prosesnya).
3.
Standard capacity, yaitu tingkat keluaran per satuan waktu yang ditetapkan
sebagai sasaran pengoperasian bagi manajemen, supervise, dan para operator
mesin, dapat digunakan sebagai dasar bagi penyusunan anggaran.
4. Actual dan atau operating
capacity, yaitu tingkat keluaran rata-rata per satuan waktu selama
periode-periode waktu yang telah lewat. Ini adalah kapasitas standard ±
cadangan-cadangan, penundaan, tingkat sisa nyata dan sebagainya.
5. Peak capacity, yaitu jumlah keluaran per satuan waktu (mungkin
lebih rendah daripada rated, tetapi lebih besar daripada standard ) yang dapat
dicapai melalui maksimisasi keluaran, dan akan mungkin dilakukan dengan kerja
lembur, menambah tenaga kerja, menghapuskan penundaan-penundaan, mengurangi jam
istirahat dan sebagainya.
Kapasitas atau tingkat keluaran ini
pada umumnya dinyatakan dalam satuan- satuan sebutan persamaan seperti batang,
ton, lologram, meter atau jam kerja yang tersedia. Sedangkan satuan-satuan
waktu yang penting bagi perencanaan kapasitas, dapat dinyatakan dalam satuan
seperti jam, hari, minggu atau bulan.
2.2. Perencanaan Kapasitas Jangka Pendek
Perencanaan kapasitas jangka pendek
digunakan untuk menangani secara ekonomis hal-hal yang bersifat mendadak dimasa
yang akan dating, misalnya untuk memenuhi permintaan yang bersifat mendadak
atau seketika dalam jangka waktu pendek. Menghadapi kondisi diatas jika
kapasitas produksi tidak mampu memenuhi maka perusahaan dapat melakukan
sub-kontrak kepada perusahaan lain pada saat terjadi lonjakan jumlah
permintaan.
Jika perusahaan ingin meningkatkan
kapasitas produksi jangka pendek maka ada lima cara yang dapat dilakukan :
1. Meningkatkan jumlah sumber daya
2. Memperbaiki penggunaan sumber daya
3. Memodifikasi produk
4. Memperbaiki permintaan
5. Tidak memenuhi permintaan
2.3. Perencanaan Kapasitas Jangka Panjang
Perencanaan kapasitas jangka panjang
merupakan strategi operasi dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan
terjadi dan sudah dapat diperkirakan sebelumnya. (dari hasil forecasting). Tujuan utamanya adalah
perusahaan dapat menentukan jumlah produksi yang dapat menghasilkan biaya
minimum dengan memperhatikan antara lain: pola permintaan jangka panjang dan
siklus kehidupan produk yang dihasilkan. Untuk mengantisipasi gejolak kapasitas
jangka panjang terdapat dua strategi yang dapat ditempuh perusahaan yaitu (1)
Strategi melihat dan menunggu perkembangan (wait and see strstegy). (2).
Strategi ekspansionis, yaitu berproduksi dengan kapasitas produksi yang selalu
melebihi atau diatas volume permintaan.
2.4. Metode Perencanaan Kapasitas Produksi
Dalam menentukan kapasitas produksi optimum, terdapat berbagai
macam factor yang harus diperhatikan, faktor2 tersebut umumnya disebut sebagai
factor produksi antara lain : (1). kapasitas bahan baku (2), Kapasitas jam
kerja mesin (3). Kapasitas jam tenaga kerja (4). Kapasitas modal kerja. Dari
beberapa factor tersebut diusahakan untuk memperoleh kombinasi jumlah dan jenis
produksi yang akhirnya dapat menghasilkan keuntungan maksimal atau beban biaya
yang paling minimal.
Perencanaan kapasitas atas dasar waktu dapat diuraikan sebagai berikut :
Perencanaan kapasitas atas dasar waktu dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Kapasitas jangka panjang (lebih dari 1
tahun).
Merupakan sebuah
fungsi penambahan fasilitas dan peralatan yang memilki lead time panjang.
2. Kapasitas jangka menengah (3 hingga 18
bulan).
Hal ini
merupakan tugas perencanaan keseluruhan. Dapat berupa ditambahkan
peralatan, karyawan dan jumlah shift, dapat pula dilakukan subkontrak, dan
dapat juga menggunakan persediaan.
3. Kapasitas jangka pendek (biasanya
hingga 3 bulan).
Perhatian utama
terletak pada penjadwalan tugas, penjadwalan karyawan dan pengalokasian
mesin. Sangat sulit untuk mengubah kapasitas jangka pendek, sehingga
biasanya digunakan kapasitas yang sudah ada.
2.4.1. Metode Break Even Point
Metode break event point (BEP) baik
linear maupun non linear dapat digunakan untuk menentukan kapasitas produksi
optimum. BEP dapat diartikan suatu keadaan dimana total pendapatan besarnya
sama dengan total biaya (TR = TC) atau dapat juga dikatakan laba (revenue) p =
0.
Contoh Soal :
PT.
ABC berproduksi dengan biaya tetap selama satu tahun sebesar Rp.400.000,-
sedangkan biaya variabelnya Rp.600,-/unit. Harga jual produk ditetapkan
Rp.1.000,- per unit. Kapasitas bahan baku (a) mampu menghasilkan sebanyak 2.500
unit produk, kapasitas jam tenaga kerja (b) dapat menghasilkan sebanyak 3.000
unit, kapasitas jam kerja mesin (c) sebesar 3.500 unit. Sedangkan jumlah
permintaan (d) diperkirakan 4.000 unit. Dari data tersebut hitunglagh BEP dan
gambarkan grafiknya !
FC = 400.000
BEP = 1.000 unit
P – VC 1.000 – 600
Selanjutnya dari unit BEP dan kapasitas masing-masing factor
produksi dapat dibuat grafik BEP seperti disajikan dalam gambar berikut ini :
Penjualan
(a) (b) (c) (d) Total Biaya
TR TC
1.000
400 FC
0 1
1,5 2 2,5 3 3,5 4 unit (000)
Berdasarkan
gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : meskipun jumlah permintaan
sebesar 4.000 unit tetapi perusahaan tidak dapat memenuhinya karena dibatasi
oleh kapasitas bahan baku yang tersedia hanya sebesar 2.500 unit, jadi
kapasitas produksi optimum adalah 2.500 unit yang ditentukan dari jumlah bahan
yang mampu disediakan. Dengan berproduksi sebanyak 2.500 unit perusahaan akan
memperoleh keuntungan sebesar =
p = TR – TC
= (Rp. 1000- x 2500u) – (Rp. 400.000,- + Rp. 600,- (2500))
= Rp. 2.500.000,- (–) Rp. 1.900.000,- = Rp.
600.000,-
2.5. Perencanaan Kapasitas
2.5.1. Strategi Dalam Perencanaan Kapasitas Produksi
Kapasitas tenaga kerja Taylor (2000) membedakan strategi
perencanaan kapasitas ke dalam tiga tipe, yaitu :
a. Capacity Lead
Strategy, adalah strategi dimana kapasitas yang direncanakan naik secara bertahap
dan selalu melebihi nilai permintaan, jika permintaan berbentuk garis lurus
(linier).
b. Capacity Lag
Strategy, adalah
strategi dimana kapasitas yang direncanakan selalu melebii nilai permintaan,
jika permintaannya yang naik secara bertahap.
c. Average
Capacity Strategy, strategi kapasitas rata-rata, adalah suatu strategi yang
direncanakan kadang melebihi dan kadang berkurang dari permintaan pasar. Penyelesaian kapasitas diusahakan
mendekati nilai rata-rata permintaan pasar.
2.5.2. Strategi Perencanaan Agregat Dalam Proses Produksi
a. Srategi Murni
Strategi yang disusun dengan hanya memanipulasi salah satu
variabel. Strategi ini terdiri dari dua golongan yakni (1) pilihan kapasitas
dimana perusahaan berusaha untuk mengubah permintaan tetapi untuk menyerap
fluktuasi dalam permintaan dan (2) pilihan permintaan. di mana perusahaan
berusaha untuk memuluskan perubahan pola permintaan selama perioda perencanaan
Beberapa tipe strategi yang termasuk strategi murni adalah sebagai berikut.
1) Tipe Strategi Pilihan Kapasitas atau Level Production
Sebuah perusahaan dapat menentukan pilihan kapasitas dasar
(produksi) berikut:
a. Mengubah
tingkat persediaan. Para manajer dapat meningkatkan persediaan selama perioda
permintaan rendah untuk memenuhi permintaan yang tinggi di masa datang. Jika
strategi tersebut dipilih, maka biaya-biaya yang berkaitan dengan penyimpanan,
asuransi, penanganan, keusangan, pencurian, dan modal yang diinvestasikan akan
meningkat. Biaya-biaya tersebut pada umumnya berkisar 15% hingga 40% dari nilai
sebuah barang setiap tahunnya. Pada sisi lain, ketika perusahaan memasuki masa
di mana permintaan terus meningkat, maka kekurangan yang terjadi dapat
mengakibatkan penjualan yang hilang disebabkan lead-time yang lebih panjang dan
pelayanan pelanggan yang lebih buruk.
b. Meragamkan
ukuran tenaga kerja dengan cara mengkaryakan atau memberhentikan. Salah satu
cara untuk memenuhi permintaan adalah dengan mengkaryakan atau memberhentikan
para pekerja untuk menyesuaikan tingkat produksi. Bagaimanapun, sering karyawan
baru memerlukan pelatihan, dan rata-rata produktivitas menurun untuk sementara
sehingga mereka menjadi terbiasa. Pemberhentian atau PHK, tentu saja,
menurunkan moral semua pekerja dan dapat mendorong ke arah produktivitas yang
lebih rendah.
c.
Meragamkan tingkat produksi melalui lembur atau waktu kosong. Terkadang tenaga
kerja dapat dijaga tetap konstan dengan meragamkan waktu kerja yang
bermacam-macam, mengurangi banyaknya jam kerja ketika permintaan rendah dan
menambah jam kerja pada saat permintaan naik. Sekalipun begitu ketika
permintaan sedang tinggi, terdapat keterbatasan seberapa banyak lembur yang
dapat dilakukan. Upah lembur memerlukan lebih banyak uang, dan terlalu banyak
lembur dapat membuat titik produktivitas pekerja secara keseluruhan merosot.
Lembur juga dapat menyiratkan naiknya biaya overhead yang diperlukan untuk
menjaga agar fasilitas dapat tetap berjalan. Pada sisi lain, pada saat
permintaan menurun, perusahaan harus menyerap waktu kosong pekerja yang
biasanya merupakan proses yang sulit.
d.
Subkontrak. Sebuah perusahaan dapat memperoleh kapasitas sementara dengan
melakukan subkontrak pekerjaan selama perioda permintaan tinggi. Bagaimanapun,
subkontrak, memiliki beberapa kekurangan. Pertama, mungkin mahal; kedua,
membawa risiko dengan membuka pintu klien bagi pesaing. Ketiga, seringkali
susah mendapatkan pemasok subkontrak yang sempurna, yang selalu dapat
mengirimkan produk bermutu tepat waktu.
e.
Penggunaan karyawan paruh waktu. Karyawan paruh waktu dapat mengisi kebutuhan
tenaga kerja tidak terampil.
2)
Tipe Strategi Pilihan Permintaan atau Chase
Demand
Dasar pemilihan permintaan adalah sebagai berikut:
a. Mempengaruhi
permintaan. Ketika permintaan rendah, sebuah perusahaan dapat mencoba untuk
meningkatkan permintaan melalui iklan, promosi, kewiraniagaan, dan potongan
harga. Contoh – AC pendingin udara paling murah dijual pada waktu musim dingin.
Bagaimanapun, bahkan iklan khusus, promosi, penjualan, dan penetapan harga
tidak selalu mampu menyeimbangkan permintaan dengan kapasitas produksi.
b.
Tunggakan pesanan selama perioda permintaan tinggi. Tunggakan pesanan adalah
pesanan yang diterima perusahaan tetapi tidak mampu (secara sengaja atau
kebetulan) untuk dipenuhi pada saat itu. Jika pelanggan mau menunggu tanpa
kehilangan kehendak baik mereka ataupun pesanannya, tunggakan pesanan adalah
strategi mungkin untuk dijalankan. Banyak perusahaan melakukan tunggakan
pesanan, tetapi pendekatan tersebut sering mengakibatkan hilangnya penjualan.
c.
Bauran produk yang Counterseasonal.
Suatu teknik penghalusan yang secara luas digunakan para manufaktur adalah
mengembangkan sebuah bauran produk yang terdiri dari barang counterseasonal. Contoh -
perusahaan yang membuat keduanya: tungku perapian dan alat pendingin atau mesin
pemotong rumput dan peniup salju. Bagaimanapun, perusahaan yang mengikuti
pendekatan tersebut dapat mendapati diri mereka terlibat dengan produk di luar
area keahlian mereka atau di luar target pasar mereka.
b. Strategi Hybrid atau Mixed Stategy
Gabungan beberapa strategi murni dimana lebih dari satu
variabel yang dimanipulasi. Pendek kata, strategi hybrid merupakan strategi
dengan mengkombinasi berbagai pilihan untuk mengembangkan sebuah rencana.
Berikut
ini adalah tipe Strategi Hybrid :
1) Strategi Perburuan
Sebuah strategi perburuan mencoba untuk mencapai tingkat
output bagi setiap perioda yang memenuhi peramalan permintaan untuk perioda
tersebut. Strategi tersebut dapat terpenuhi dengan berbagai jalan. Contoh manajer produksi dapat memvariasikan tingkat
tenaga kerja dengan merekrut atau menghentikan karyawan, atau dapat
memvariasikan produksi dengan mengubah waktu lembur, waktu kosong, karyawan
paruh waktu, atau subkontrak.
2)
Strategi Bertingkat
Sebuah strategi bertingkat (atau penjadwalan bertingkat)
adalah sebuah rencana agregat di mana produksi sehari-hari tetap sama dari
perioda ke perioda. Contoh -Perusahaan seperti Toyota dan Nissan mempertahankan
tingkat produksi pada tingkatan yang seragam dan mungkin
a.Membiarkan persediaan barang naik atau turun sebagai
penyangga di antara produksi dan permintaan atau
b. Menemukan pekerjaan alternatif bagi karyawan.
Filosofi mereka adalah bahwa tenaga kerja yang stabil menuju
ke produk yang lebih bermutu, lebih sedikit ketidakhadiran dan perputaran
karyawan, dan karyawan yang lebih memiliki komitmen pada tujuan perusahaan.
Penghematan lain mencakup karyawan yang lebih berpengalaman, pengawasan dan
penjadwalan yang lebih mudah, dan lebih sedikit startups dan shutdowns yang
dramatis. Penjadwalan bertingkat akan bekerja dengan baik ketika permintaan
stabil.
2.6. Defenisi Persediaan
Persediaan (inventory), dalam konteks produksi, dapat
diartikan sebagai sumber daya menganggur (idle resource). Sumber daya menganggur ini
belum digunakan karena menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut disini dapat berupa kegiatan produksi seperti
dijumpai pada system manufaktur, kegiatan pemasaran
seperti dijumpai pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi seperti pada sistem rumah tangga. Keberadaan persediaan atau sumber daya menganggur ini dalam
suatu sistem mempunyai tujuan
tertentu. Alasan utamanya adalah karena sumber daya tertentu tidak bisa didatangkan ketika sumber daya tersebut dibutuhkan. Sehingga, untuk menjamin tersedianya sumber
daya tersebut perlu adanya persediaan yang siap digunakan
ketika dibutuhkan. Adanya
persediaan menimbulkan konsekuensi berupa resiko-resiko tertentu yang harus ditanggung perusahaan akibat adanya persediaan tersebut. Persediaan yang disimpan perusahaan bisa saja rusak sebelum digunakan. Selain
itu perusahaan juga harus menanggung biaya-biaya yang timbul akibat adanya persediaan tersebut.
2.7. FUNGSI DAN JENIS PERSEDIAAN
Istilah
persediaan ( Inventory ) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan
segala sesuatu atau sumber daya – sumber daya organisasi yang disimpan dalam
antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumber daya
mungkin internal ataupun eksternal. Ini meliputi persediaan bahan mentah,
barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir, bahan pembantu atau
pelengkap, dan komponen lain yang menjadi keluaran produk perusahaan (Handoko,
1997, hal: 333).
Sedangkan menurut Herjanto (1999, hal: 219)
Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk
memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk
dijual kembali, dan untuk suku cadang dari suatu peralatan atau mesin.
Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses,
barang jadi, ataupun suku cadang.
Setiap perusahaan perlu mengadakan persediaan untuk
menjamin kelangsungan hidup usahanya. Untuk mengadakan persediaan, dibutuhkan
sejumlah uang yang diinvestasikan dalam persediaan tersebut. Oleh karena itu,
setiap perusahaan haruslah dapat mempertahankan suatu jumlah persediaan optimum
yang dapat menjamin kebutuhan bagi kelancaran kegiatan perusahaan dalam jumlah
dan mutu yang tepat dengan biaya yang serendah-rendahnya. Untuk mengatur
tersedianya suatu tingkat persediaan yang optimum, maka diperlukan suatu sistem
pengawasan persediaan. Tujuan dari pengawasan persediaan ini adalah (Assauri,
1998):
a. Menjaga jangan sampai kehabisan persediaan yang
mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
b. Menjaga agar pembentukan persediaan tidak terlalu besar atau
berlebih, sehingga biaya yang timbul oleh persediaan tidak terlalu besar.
c. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari
karena mengakibatkan meningkatnya biaya pemesanan.
2.7.1 Jenis Persediaan
Persediaan dapat dikelompokkan menurut jenis dan
posisi barang tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu (Assauri,
1998):
a. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Stock)
Merupakan persediaan dari barang-barang yang dibutuhkan untuk proses
produksi. Barang ini bisa diperoleh dari sumber-sumber alam, atau dibeli dari supplier
yang menghasilkan barang tersebut.
b. Persediaan Bagian Produk (Purchased Parts)
Merupakan persediaan barang-barang yang terdiri dari parts yang diterima
dari perusahaan lain, yang secara langsung diassembling dengan parts lain tanpa
melalui proses produksi.
c. Persediaan Bahan-Bahan Pembantu (Supplies Stock)
Merupakan persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi
untuk membantu kelancaran produksi, tetapi tidak merupakan bagian dari barang
jadi.
d. Persediaan Barang Setengah Jadi (Work in Process)
Merupakan barang-barang yang belum berupa barang jadi, akan tetapi masih
diproses lebih lanjut sehingga menjadi barang jadi.
e. Persediaan Barang Jadi (Finished Good)
Merupakan barang-barang yang selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan
siap untuk disalurkan kepada distributor, pengecer, atau langsung dijual ke
pelanggan.
2.7.2. Fungsi – fungsi Persediaan
Efesiensi operasional suatu organisasi dapat
ditingkatkan karena berbagai fungsi penting persediaan. Pertama, harus diingat
bahwa persediaan adalah sekumpulan produk fisikal pada berbagai tahap proses
transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses, dan kemudian barang
jadi. Fungsi – fungsi dari persediaan antara lain:
1. Fungsi “ Decoupling “
Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan
operasi – operasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan.
Persediaan “ decouples” ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi langganan
tanpa terganggu supplier.
Persediaan bahan
mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada
pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam
proses diadakan agar departemen – departemen dan proses – proses individual
perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk
memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para langganan. Persediaan
yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat
diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuation stock.
2.
Fungsi “Economic Lot Sizing”
Melalui
penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber daya –
sumber daya dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya per unit. Persediaan
“Lot Size” ini perlu mempertimbangkan penghematan dalam hal pembelian, biaya
pengangkutan per unit lebih murah karena perusahaan melakukan pembelian dalam
kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya – biaya yang timbul
karena besarnya persediaan ( biaya sewa gedung, investasi, resiko dan sebagainya
).
3. Fungsi Antisipasi
Sering perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan
yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar pengalaman atau data – data
masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan
persediaan musiman.
Disamping itu,
perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan
permintaan akan barang selama periode permintaan kembali, sehingga memerlukan
kuantitas persediaan ekstra yang sering disebut persediaan pengaman. Pada
kenyataannya, persediaan pengaman merupakan pelengkap fungsi “ decoupling “
yang telah diuraikan diatas. Persediaan antisipasi ini penting agar kelancaran
proses produksi tidak terganggu.
Hal – Hal Yang Perlu
Dipertimbangkan
1. Struktur biaya persediaan.
a.
Biaya per unit (item cost)
b.
Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)
-
Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)
-
Biaya pengiriman pemesanan
-
Biaya transportasi
-
Biaya penerimaan (Receiving cost)
-
Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost):
surat menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.
c.
Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)
-
Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila nilai
persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).
-
Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage).
Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.
d. Biaya resiko kerusakan dan
kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration and loss).
e.
Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)
2.
Penentuan berapa besar dan kapan pemesanan harus dilakukan.
2.8. METODE
MANAJEMEN PERSEDIAAN
Metode yang
digunakan dalam pengelolaan persediaan adalah seperti yang tercantum dibawah
ini. Namun yang menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah metode Economic
Order Quantity ( EOQ ) dan Analisis ABC.
1. METODA EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY)
2. METODA SISTEM PEMERIKSAAN TERUS MENERUS (CONTINUOUS
REVIEW SYSTEM)
3. METODA SISTEM PEMERIKSAAN PERIODIK (PERIODIC REVIEW
SYSTEM)
4. METODA HYBRID
5. METODA ABC
1. METODA EOQ (ECONOMIC
ORDER QUANTITY)
Metoda Economic
Order Quantity (EOQ) adalah metoda yang dapat dipergunakan baik untuk barang –
barang yang dibeli maupun yang diproduksi sendiri. Model EOQ adalah nama yang
biasa digunakan untuk barang – barang yang dibeli, sedangkan ELS ( Economic Lot
Size ) digunakan untuk barang – barang yang diproduksi secara internal.
Perbedaan pokoknya adalah bahwa, untuk ELS, biaya pemesanan ( ordering cost )
meliputi biaya penyiapan pesanan untuk dikrimkan ke pabrik dan biaya penyiapan
mesin – mesin ( setup cost ) yang diperlukan untuk mengerjakan pesanan.
Model EOQ
digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan
biaya langsung penyimpanann persediaan dan biaya kebalikannya ( inverse cost )
pemesanan persediaan. Gambar dibawah menunjukkan hubungan antara biaya
penyimpanan dan biaya pemesanan dalam bentuk grafik
Model manajemen
persediaan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menghitung EOQ:
D
: Besar laju permintaan (demand
rate) dalam unit per tahun.
S
: Biaya setiap kali pemesanan (ordering cost) dalam
rupiah per pesanan
C
: Biaya per unit dalam rupiah per unit
i
: Biaya pengelolaan (carrying cost) adalah persentase
terhadap nilai
persediaan per tahun.
Q
: Ukuran paket pesanan (lot size) dalam unit
TC
: Biaya total persediaan dalam rupiah per tahun.
Biaya pemesanan per tahun (Ordering cost):
OC = S (D/Q)
Biaya pengelolaan persediaan per tahun (Carrying
cost)
CC = ic (Q/2)
Maka, total biaya persediaan:
TC
= S (D/Q) + ic (Q/2)
Model EOQ di atas dapat
diterapkan bila anggapan – anggapan berikut ini dipenuhi:
2.
METODA ABC / ANALISIS ABC
Analisis ABC
membagi persediaan yang ada ke dalam tiga kelompok berdasarkan volume tahunan
dalam jumlah uang. Analisis ABC merupakan penerapan persediaan dari Prinsip
Pareto. Prinsip Pareto menyatakan bahwa ada "beberapa yang penting dan
banyak yang sepele". Pemikiran yang mendasari prinsip ini adalah bagaimana
memfokuskan sumber daya pada bagian persediaan penting yang sedikit itu dan
bukan pada bagian persediaan yang banyak namun sepele.
Untuk
menentukan nilai uang tahunan dari volume dalam analisis ABC, dilakukan
pengukuran permintaan tahunan dari setiap butir persediaan dikalikan dengan
biaya per unit. Butir persediaan kelas A adalah persediaan-persediaan yang
jumlah nilai uang per tahunnya tinggi. Butir-butir persediaan semacam ini
mungkin hanya mewakili sekitar 15% dari butir-butir persediaan total, tetapi
mewakili 70% sampai 80% dari total biaya persediaan. Butir persediaan kelas B
adalah butir-butir persediaan yang volume tahunannya (dalam nilai uang) sedang.
Butir-butir persediaan ini mungkin hanya mewakili 30% dari keseluruhan
persediaan dan 15% sampai 25% dari nilainya. Butir - butir persediaan yang
volume tahunannya kecil, dinamakan kelas C, yang mewakili hanya 5% dari
keseluruhan volume tahunan tetapi sekitar 55% dari keseluruhan persediaan.
Kriteria selain
volume tahunan dalam nilai uang dapat menentukan klasifikasi butir persediaan.
Misalnya, perubahan teknis yang diantisipasi, masalah-masalah pengiriman,
masalah-masalah mutu, atau biaya per unit yang tinggi dapat membawa butir
persediaan yang menaik ke dalam klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungan
pembagian butir-butir persediaan ke dalam kelas-kelas memungkinkan
ditetapkannya kebijakan dan pengendalian untuk setiap kelas yang ada. Kebijakan
yang dapat didasarkan pada analisis ABC sebagai berikut:
1. Perkembangan sumber daya pembelian yang dibayarkan
kepada pemasok harus
lebih tinggi untuk butir persediaan A dibandingkan butir persediaan C.
lebih tinggi untuk butir persediaan A dibandingkan butir persediaan C.
2. Butir persediaan A, berlainan dengan butir persediaan
B dan C. harus dikendalikan secara lebih ketat; mungkin karena butir persediaan
A ini ditempatkan di wilayah yang lebih tertutup dan mungkin karena keakuratan
catatan persediaannya harus lebih sering diverifikasi.
3. Meramalkan butir persediaan A mungkin harus lebih
berhati-hati daripada
meramalkan butir (kelas) persediaan yang lain.
meramalkan butir (kelas) persediaan yang lain.
4. Peramalan yang lebih baik, pengendalian fisik,
keandalan pemasok, dan
pengurangan besar stok pengaman dapat dihasilkan oleh semua teknik manajemen persediaan semacam analisis ABC.
pengurangan besar stok pengaman dapat dihasilkan oleh semua teknik manajemen persediaan semacam analisis ABC.
CONTOH KASUS
Model Economic Order Quantity
1)
Contoh Kasus 1
Diketahui sebuah perusahaan
memiliki kebutuhan bahan baku sebesar 10.000 unit per tahun. Biaya pemesanan
untuk pengadaan bahan tersebut adalah sebesar Rp 150,-/order. Biaya simpan yang
terjadi sebesar Rp 0,75/u/tahun. Hari kerja per tahun adalah 350 hari. Waktu
tunggu (lead time) untuk pengiriman bahan tersebut selama 10 hari
Pertanyaan:
Hitunglah EOQ
Berapa total biaya yang dikeluarkan perusahaan
untuk pengadaan bahan tersebut
Berapa kali perusahaan melakukan pemesanan dalam 1
tahun
Berapa lama EOQ akan habis dikonsumsi perusahaan
Tentukan reorder point (titik pemesanan kembali)
Bagan persediaan perusahaan
- Jawab
- EOQ = 2x150x10.000 = 2000 unit
0.75
- TC = HxQ/2 + S.D/Q = (0.75 x 2000/2) + (150 x 10000/2000)
= Rp 750,- + Rp 750,- = Rp 1500,-
- Jumlah pemesanan/th = D/Q
= 10000/2000 = 5 kali
- Durasi habisnya EOQ = 350/5 = 70 hari
- Reorder point = L. D/hari kerja setahun
= 10 x (10000/350) = 285. 7 hari
2) Contoh Kasus 2
Suatu perusahaan memiliki kebutuhan material sebesar 100.000 unit per
tahun. Biaya pesan $35/order. Biaya simpan sebesar 20% dari harga beli
material. Pihak supplier menawarkan suatu penawaran khusus untuk pengadaan
material tersebut dalam bentuk harga potongan. Adapun syaratnya adalah sbb:
Kuantitas pembelian
Harga
4000 – 7999
unit
$1.80
Lebih dari 8000
unit
$1.70
Pertanyaan:
Di unit berapakah sebaiknya perusahaan melakukan pembelian.
- Kuantitas pembelian paling sedikit 8000 unit
Harga beli (C) = $1.70
H = $1.70 x 0.2 = $0.34
EOQ = 2 x 35 x 100000 = 4537.43 unit
(tidak feasible)
0.34
TC = 100000 x $1.70 + 0.34 x (8000/2) + 35 x (100000/8000)
= $ 171,795.5
- Kuantitas pembelian 4000 – 7999 unit
harga beli = $180
H = $1.80 x 0.2 = $0.36
EOQ = 2 x 35 x 100000 = 4409.59 = 4409.59 unit
0.36
TC = 100000 x $1.80 + 0.36 x (4409.59/2) + 35 x (100000/4409.59)
= $181,587.5
Jadi yang
dipilih adalah kuantitas pembelian 8000 unit karena memiliki total biaya
terkecil
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas dapat
disimpulkan Kapasitas adalah kemampuan pembatas dari
unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu, dan biasanya dinyatakan
dalam bentuk keluaran (output) per satuan waktu. Dalam menentukan
kapasitas produksi optimum, terdapat berbagai macam factor yang harus
diperhatikan, faktor2 tersebut umumnya disebut sebagai factor produksi antara
lain : (1). kapasitas bahan baku (2), Kapasitas jam kerja mesin (3). Kapasitas
jam tenaga kerja (4). Kapasitas modal kerja. Metode break event point (BEP) baik linear maupun
non linear dapat digunakan untuk menentukan kapasitas produksi optimum. Persediaan (inventory), dalam konteks produksi, dapat
diartikan sebagai sumber daya menganggur (idle resource). Sumber daya menganggur ini belum digunakan karena menunggu
proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut disini dapat berupa kegiatan produksi seperti
dijumpai pada system manufaktur, kegiatan pemasaran
seperti dijumpai pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi seperti pada sistem rumah tangga. Keberadaan persediaan atau sumber daya menganggur ini dalam
suatu sistem mempunyai tujuan
tertentu. Alasan utamanya adalah karena sumber daya tertentu tidak bisa didatangkan ketika sumber daya tersebut dibutuhkan. Sehingga, untuk menjamin tersedianya sumber
daya tersebut perlu adanya persediaan yang siap digunakan
ketika dibutuhkan. Adanya
persediaan menimbulkan konsekuensi berupa resiko-resiko tertentu yang harus ditanggung perusahaan akibat adanya persediaan tersebut. Persediaan yang disimpan perusahaan bisa saja rusak sebelum digunakan. Selain
itu perusahaan juga harus menanggung biaya-biaya yang timbul akibat adanya persediaan tersebut..
3.2. Saran
Setiap
perusahaan diharapkan dapat membuat perencanaan kapasitas dengan strategi yang
paling baik dan memungkinkan untuk setiap perusahaan sesuai dengan strategi
operasi perusahaan. Perusahaan harus jeli melihat peluang kapan perusahaan
harus memproduksi lebih kapan perusahaan harus memproduksi cukup barang agar
tidak adanya barang-barang yang berlebih dan tidak menimbulkan biaya-biaya lain
yang tidak dibutuhkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati.
Tjutju, Operations Research Model – model Pengambilan Keputusan, Sinar
Baru Algensindo, Bandung, 2003.
Handoko, Dasar – dasar Manajemen Produksi Dan Operasi. BPFE,
Yogyakarta,
1997.
Hamdy Taha, Operation Research
An Introduction, Edisi 4, Macmillan, New York
Richard Bronson, Theory and Problem of Operation Research ,
McGraw-Hill,
Singapore.
ASE – Volume 7 Nomor 1,
Januari 2011: 1 - 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar