Selasa, 18 Desember 2018

Magang Balai Latihan Kerja (BLK) di Kota Kendari

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam era globalisasi ini banyak masalah yang timbul diberbagai kalangan, dan semua masalah yang muncul karena perbedaan pendapat antara manusia satu dengan manusia lainnya. Dari sekian banyak masalah yang paling sering dihadapi oleh setiap masyarakat adalah sulitnya mencari lahan pekerjaan.
Balai Latihan Kerja (BLK) merupakan tempat pelatihan untuk mendapatkan keterampilan atau yang ingin mendapatkan keahlian dibidangnya masing-masing. Balai Latihan Kerja mempunai beberapa kejuruan salah satu contoh kejuruan tersebut adalah pengolahan Hasil Pertanian dan Perikanan (PHP).
Pengolahan Hasil Pertanian dan Perikanan (PHP) merupakan suatu upaya kegiatan perubahan fisik, kimia, dan sensorik atau organoleptik bahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan pertenakkan yang dimana sumber daya alam tersebut digunakan untuk memproduksi produk-produk makanan seperti: Roti, Bolu, Mie, Nugget, bakso dan lain-lain. Di Balai Latihan Kerja diajarkan mendiversifikasikan bahan pangan agar mendapatkan produk yang berkualitas terutama pada kebutuhan gizi masyarakat. Setelah, melaksanakan pelatihan siswa-siswi Balai Latihan Kerja diberikan kesempatan untuk On The Job Training.
On The Job Training merupakan suatu kesempatan yang diberikan kepada siswa  untuk melakukan praktek kerja lapangan yaitu dengan mempraktekan apa yang diajarkan selama pelatihan dengan jurusan siswa-siswi itu sendiri. kegiatan On The job Training ditujukan untuk melatih keterampilan dibidangnya masing dan kegiatan ini juga dapat menambah wawasan lebih tentang jurusan yang digelutinya. Siswa-siswi BLK yang telah melaksanakn kegiatan On The Job Training diwajibkan untuk maembuat laporan ( karya tulis ), sebagai bukti bahwa siswa-siswi itu memang telah melaksnakan tugasnya .
Kegiatan On The Job Training (OJT) ini sangat menguntungkan siswa BLK karena dapat menambah pengetahuan khususnya dalam bidang manajerial, pengalaman serta keprofesionalan dalam melakukan suatu bidang pekerjaan. Pada kesempataan ini kelompok kami ditempatkan di AUFA yang berada di Jalan Nipa Raya No.1. yang diamana perusahaan ini memproduksi berbagai jenis Cake, Bakery dan Tradisional Food.


1.2. Rumusan Masalah
A. Bagaimana Profil AUFA ?
B. Apa saja perbedaan yang didapatkan ditempat pelatihan dan di tempat On The Job Training?
C. Apa saja kegiatan-kegiatan yang dikerjakan selama di AUFA ?
D. Apa saja hambatan-hambatan yang dihadapi selama di AUFA dan bagaimana cara mengatasinya ?

1.3. Tujuan dan Manfaat OJT
Tujuan dari On The Job Training adalah sebagai berikut:
A. Mengetahui Profil AUFA
B. Mengetahui perbedaan yang didapatkan ditempat pelatihan dan di tempat On The Job Training
C. Mengetahui suasana kerja di AUFA
D. Menyelesaikan tugas yang diberikan dari Balai Latihan Kerja dalam rangka pelaksanaan OJT
E. Guna mengukur sejauh mana pengalaman yang telah didapat di lapangan ke dalam bentuk tulisan.
F. Agar nantinya dapat dijadikan bahan sejauh mana hasil yang telah didapat selama mengikuti On The Job Training
G. Sebagai salah satu syarat dalam pengambilan sertifikat.

Manfaat dari On The Job Training adalah sebagai berikut:
Manfaat penulisan laporan yaitu untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan kerjasama dengan orang lain dalam satu lingkungan di sebuah perusahaan di dalam bekerja nantinya.
1.4.. Ruang Lingkup
Untuk menghindari bahasan laporan ini terlalu luas dan mengingat keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan waktu yang penulis miliki, maka ruang lingkup penelitian ini terbatas pada AUFA. Adapun yang dipaparkan dalam laporan ini meliputi segala kegiatan yang penulis lakukan selama melaksanakan kegiatan On The Job Training.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Profil
2.1.1.  Profil Dapur AUFA
AUFA cake, Bakery and Tradisional Food berdiri pada 2 Januari 2017 yang merupakan merk sebelumnya yaitu DAPUR AUFA yang merupakan Brand di bawah AUFA group. AUFA didirikan oleh pasangan suami-istri yang bernama La Ode. Rakhmad Darmawan dan Masita Sahibu yang biasa para karyawannya memangil mereka dengan sebutan Abi dan Ummi. AUFA memiliki karyawan yang berjumlah 18 orang pegawai tetap di AUFA.
2.1.2.VISI DAN MISI AUFA
Visi AUFA adalah membantu menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara dan Misi AUFA adalah memberikan produk rerotian premium terbaik kepada warga Kendari selain itu, AUFA berusaha mengubah makanan tradisional food yang terkadang dipandang sebelah mata bahkan oleh orang Indonesia sendiri. Maka dari itu AUFA berusaha mengubah makanan tradisional food  menjadi olahan tradisonal yang popular dalam setiap hidangan kuliner.
2.1.3. Spesialisasi Layanan
AUFA memproduksi kurang lebih 30 jenis cake yang cocok sekali dijadikan dalam snack box sebagai hidangan rapat atau pertemuan seperti kue pay, brownies, bolu zebra marmer dan lain sebagainya. Selain itu AUFA juga memproduksi berbagai jenis  Bakery (Pisang, Abon, Sosis, ) dan Tradisional Food seperti Barongko.
2.2. Perbedaan yang didapatkan ditempat Pelatihan dan di tempat On The Job Training
Perbedaan yang didapatkan yaitu: dari alat maupun cara pembuatan yang telah dilaksanakan di BLK berbeda dengan di tempat kami On The Job Training. Namun, kami mengikuti setiap langkah-langkah dari perbedaan tersebut dan disinilah kami mendapatkan ilmu baru. Misalnya cara membuat roti biasanya di BLK kami membuat Roti dengan cara mencampurkan sekaligus adonan roti sedangkan di tempat kami OJT kami diajar untuk membuat biang dulu sehabis itu tunggu mengembang dan membuat adonan kedua dan mencampurkannya bersama dengan adonan pertama.  Selain itu, alat yang digunakan bebeda pada oven yang digunakan ditempat kami pelatihan masih menggunakan Oven biasa sedangkan di tempat kami On The Job Training menggunakan oven yang sudah lebih modern yang biasa digunakan di Industi-Industri (Oven Vakum).

2.3. Kegiatan yang dilaksanakan di AUFA
Berikut uraian kegiatan selama 20 hari On The Job Training di AUFA
No Hari Tanggal Kegiatan Kegiatan
1 Jum’at, 22 juni 2018 Pengantaran surat sekaligus pengenalan lokasi
2 Sabtu, 23 juni 2018 Pembuatan roti (maros, bantal, pisang coklat, dan sosis)
3 Minggu, 24 juni 2018 Pembuatan roti (sosis, maros, bluberry)
4 Senin, 25 juni 2018 Pembutn roti
5 Selasa, 26 juni 2018 Ketring (mengisi makanan di kotak makan dan pembuatan roti
6 Rabu, 27 juni 2018 Pengantaran ketring, dan membuat kue pay brownies.
7 Kamis, 28 juni 2018 Pembuatan kue pay, risoles dan kue bolu (zebra dan marmer)
8 Jum’at 29 juni 2018 Membuat kue pay, puding lapis krispi dan cantik mnis
9 Sabtu, 30 juni 2018 Mengantar ketring dan membut roti.
10 Minggu, 01 juli 2018 Membuat roti ( pisang, abon, sosis.
11 Senin, 02 juli 2018 Memetik daun kelor, bayam, menyusun ketring dan mengntar ketring
12 Selasa, 03 juli 2018 Menglab kotak makan plastik, mengisi, dan mengantar ketring di DSSP.
13 Rabu, 04 juli 2018 Pembuatan kue pay
14 Kamis, 05 juli 2018 Pembuatan roti
15 Jum’at, 06 juli 2018 Pembuatan kue pay brownies
16 Sabtu, 07 juli 2018 Pembuatan roti
17 Minggu, 08 juli 2018 Pembuatan roti
18 Senin, 09 juli 2018 Ketring dan membuat kulit pay
19 Selasa, 10 juli 2018 Ketring dan pembuatan roti
20 Senin 11 juli 2018 Ketring dan pembuatan roti

2.5. Hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasi hambatan-hambatan tersebut dan cara mengatasinya
Pada saat On The Job Training, penulis pernah menghadapi beberapa hambatan dalam bekerja. Adapun hambatan-hambatan yang penulis hadapi selama mengikuti On The Job Training, yaitu sebagai berikut:
1. Tugas yang diberikan terkadang berbeda dengan yang diajarkan di BLK.
2. Pengaruh Cuaca, yang dimana permasalahan yang biasa kami hadapi di tempat OJT yaitu pada saat cuaca buruk yang mengakibatkan roti yang kami buat susah mengembang alternatif yang kami ambil yaitu dengan cara memanaskan air panas dan menyimpan roti di lemari fermentasi.
3. Permasalahan yang lain di tempat OJT kami adalah jika penimbangan bahan tidak sesuai dengan prosedur maka, hasil dari pembuatan kue tersebut tidak bagus altenatif dari ini adalah kami menggunakan timbangan digital untuk menghasilkan adonan atau bahan kue yang pas untuk memproduksi.
 

Adapun cara penulis untuk menyelesaikan masalah yang timbul On The Job Training yaitu:
1. Bila penulis mengalami kesulitan atau tidak mengerti, penulis bertanya kepada pembimbing.
2. Berusaha dan belajar agar kesulitan itu sedikit demi sedikit hilang.
3. Mencoba untuk lebih sering berkomunikasi dengan orang-orang Dapur Aufa







BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil On The Job Training di Aufa selama 20 hari dapat disimpulkan bahwa AUFA didirikan pada 2 januari 2017 oleh pasangan suami istri Rakhmad Darmawan dan Masita Sahibu, AUFA memiliki karyawan tetap sebanyak 18 orang, AUFA memproduksi kurang lebih 30 jenis cake yang cocok sekali dijadikan dalam snack box sebagai hidangan rapat atau pertemuan seperti kue pay, brownies, bolu zebra marmer dan lain sebagainya. Selain itu AUFA juga memproduksi berbagai jenis  Bakery (Pisang, Abon, Sosis, ) dan Tradisional Food seperti Barongko. Dalam proses pengolahan di AUFA dan ditempat pelatihan terdapat beberapa perbedaan seperti AUFA yang telah banyak memiliki barang-barang modern dibandingkan tempat pelatihan dan AUFA lebih banyak memproduksi produk-produk sehingga penulis mendapatkan pemahaman ilmu yang banyak tentang hasil pertanian dan perikanan. 
B. SARAN
Berikut merupakan beberapa saran untuk Balai Latihan Kerja:
1. Untuk bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses pelatihan sebaiknya dibeli  jangan dari jauh hari karena dapat menyebabkan bahan-bahan tersebut rusak sebelum digunakan contohnya seperti bawang merah/putih, dan gula merah.
2. Untuk resep atau cara praktek masak-memasak atau membuat cake seharusnya tidak membuat itu-itu saja misalnya kue bolu sebaiknya membuat dengan kreasi yang berbeda-beda agar peserta yang mengikuti pelatihan tidak merasa jenuh dengan
3. untuk peralatan di BKI untuk memenuhi 5S harus ada lemari agar kelihatan rapi sehingga mencari barang yang akan digunakan tidak membutuhkan waktu yang lama.
4. Untuk oven yang digunakan di BLK alangkah baiknya menggunakan oven modern sehingga memiliki daya minat atau ketertarikan sendiri oleh calon siswa-siswi BLK .


DAFTAR PUSTAKA
             Darmawan La Ode Rakhmad, 2017. Profil AUFA Group, Kendari Sulawesi

Tenggara.


Selasa, 03 Januari 2017

INTERAKSI NUTRIENT DAN SUBSTANSI LAIN



Makalah
INTERAKSI NUTRIENT DAN SUBSTANSI LAIN
‘’Pengertian Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada Interaksi Obat dan Makanan’’
 







Oleh
KELOMPOK
                           PUTRI SULHAM WIJAYA        D1C1 13 071
  VICKY SAFRIANI                      D1C1 13 068
  NURLIA                                       D1C1 13 085

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016






DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan dan Manfaat

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Interaksi Obat pada makanan
2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan
2.2. Mekanisme terjadinya interaksi-obat
2.2.1 Interaksi farmasetik
2.2.2        Interaksi farmakokinetik
A.    Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestina
B.     Interaksi yang terjadi pada proses distribusi
C.     Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA













Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat  Allah SWT Atas Rahmat dan Hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul ‘’ Pengertian Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada Interaksi Obat dan Makanan’’ dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Penulis menyadari di dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
            Demikian, dari penulis semoga maklaah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin Ya Rabbal’alamiin



           
                                                                        Kendari, 21 April 2016




                                                                                    Penulis










BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
             Selama ini, di masyarakat terdapat berbagai macam image terkait cara minum obat. Jika kita ingin meluruskan image yang salah tentang pemakaian obat, mau tak mau kita harus memiliki ilmu farmakokinetika, yakni ilmu tentang nasib obat di dalam badan. Prinsip farmakokinetika pada manusia bertujuan membuat regimen dosis individu dengan mengoptimalkan respon terapi pada pengobatan dan meminimalkan adanya respon efek samping. Farmakokinetik adalah cabang farmakologi yang dikaitkan dengan penentuan nasib obat dalam tubuh.
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu atau lebih akan berubah . Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar obat dalam darah.

1.2. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan interaksi obat dan makanan ?
2.      Bagaimana proses  mekanisme yang terjadinya interaksi obat dan makanan ?
1.3. Tujuan dan manfaat
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu mahasiswa dapat menjelaskan interaksi obat dan makanan, serta proses mekanisme yang terjadi pada interaksi obat dan makanan.


























BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Interaksi Obat dan Makanan
Ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat, perubahan tersebut dianggap sebagai interaksi obat-makanan. Interaksi seperti itu bisa terjadi. itu bisa terjadi. Tetapi tidak semua obat  dipengaruhi  oleh  makanan,  dan  beberapa  obat  hanya  dipengaruhi  oleh  makanan-makanan tertentu. Interaksi obat-makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan, obat yang dibeli bebas, produk herbal, dan suplemen. Meskipun beberapa interaksi mungkin  berbahaya atau bahkan fatal pada kasus yang langka, interaksi yang lain bisa bermanfaat dan umumnya tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kesehatan tubuh. Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Salah satu cara yang paling umum makanan mempengaruhi efek obat adalah dengan mengubah cara obat-obat tersebut diuraikan ( dimetabolisme ) oleh tubuh. Jenis protein yang disebut enzim, memetabolisme banyak obat. Beberapa makanan dapat membuat enzim-enzim ini bekerja lebih cepat atau lebih lambat, baik dengan memperpendek atau memperpanjang waktu yang dilalui obat  di dalam tubuh.  Jika makanan mempercepat  enzim, obat  akan lebih singkat berada di dalam tubuh dan dapat  menjadi kurang efekteif.  Jika makanan memperlambat enzim, obat akan berada lebih lama dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek samping yang tidak dikehendaki. Kemungkinan-kemungkinan  yang   menyebabkan  dapat  terjadinya   interaksi  obat dengan makanan adalah :
1.          Perubahan motilitas lambung dan usus, terutama kecepatan pengosongan lambung dari saat masuknya makanan
2.          Perubahan pH, sekresi asam serta produksi empedu
3.          Perubahan suplai darah di daerah splanchnicus dan di mukosa saluran cerna
4.          Dipengaruhinya absorpsi obat oleh proses adsorpsi dan pembentukan kompleks
5.          Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan

2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
Obat-obat yang dikonsumsi dapat saling   mempengaruhi yang dampaknya bisa negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan.   Saling pengaruh yang terjadi bila kita menggunakan lebih dari 1 macam   obat disebut juga interaksi obat. Dalam praktek sehari-hari, interaksi obat   jarang dikatakan sebagai   akibat  kegagalan pengobatan. Sesungguhnya  pemberian obat  kepada   pasien  yang    terlampau banyak jenisnya, misalnya lebih dari 4 macam,  sangat potensial   menimbulkan efek yang tidak diinginkan akibat interaksi obat. Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh  obat  lain  yang diberikan bersamaan. 
Kemungkinan   terjadinya    peristiwa    interksi    harus   selalu dipertimbangkan   dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau hampior   bersamaan. Tidak   semua   interaksi  obat membawa pengaruh yang merugikan, beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan. Interaksi dapat membawa dampak yang   merugikan kalau terjadinya interaksi   tersebut   sampai   tidak   dikenali  sehingga   tidak   dapat dilakukan    upaya-upaya    optimalisasi.   Secara ringkas    dampak negatif dari interaksi ini kemungkinan akan timbul sebagai:  
ü   Tidak tercapainya efek terapetik yang  diinginkan
ü  terjadi efek samping
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi obat yaitu :
1.    Obat dengan indek terapi sempit.
2.    Obat yang mempunyai bioavaibilitas rendah.
3.    Formulasi obat.
4.    Stereokimia obat.
5.    Potensi obat.
6.    Obat yang mempunyai kurva dosis respon yang tajam / curam.
7.    Lama terapi / penggunaan obat.
8.    Dosis obat.
9.    Konsentrasi obat dalam darah dan jaringan (cairan tubuh).
10.    Waktu dan urutan penggunaan obat.
11.    Rute penggunaan obat
12.    Base line dari interaksi dan indek terapi.
13.    Jumlah obat yang mengalami metabolism.
14.    Kecepatan metabolisme
15.    Ikatan obat dengan protein
16.    Volume distribusi
17.    Problem farmakokinetik

2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan

Tidak semua obat berinteraksi dengan makanan. Namun, banyak obat-obatan yang dipengaruhi oleh makanan tertentu dan waktu Anda memakannya. Berikut adalah beberapa contohnya:
  • Jus jeruk menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme obat sehingga mengintensifkan pengaruh obat-obatan tertentu. Peningkatan pengaruh obat mungkin kelihatannya baik, padahal tidak. Jika obat diserap lebih dari yang diharapkan, obat tersebut akan memiliki efek berlebihan. Misalnya, obat untuk membantu mengurangi tekanan darah bisa menurunkan tekanan darah terlalu jauh. Konsumsi jus jeruk pada saat yang sama dengan obat penurun kolesterol juga meningkatkan penyerapan bahan aktifnya dan menyebabkan kerusakan otot yang parah. Jeruk yang dimakan secara bersamaan dengan obat anti-inflamasi atau aspirin juga dapat memicu rasa panas dan asam di perut.
  • Kalsium atau makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan produk susu lainnya dapat mengurangi penyerapan tetrasiklin.
  • Makanan yang kaya vitamin K (kubis, brokoli, bayam, alpukat, selada) harus dibatasi konsumsinya jika sedang mendapatkan terapi antikoagulan (misalnya warfarin), untuk mengencerkan darah. Sayuran itu mengurangi efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko  trombosis (pembekuan darah).
  • Kafein meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu (enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).Untuk menghindari keluhan palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan
2.2. Mekanisme terjadinya interaksi-obat
Mekanisme interaksi obat dapat melalui beberapa cara, yakni :
1) interaksi secara farmasetik (inkompatibilitas)
 2) interaksi secara farmakokinetik dan
2.2.1 Interaksi farmasetik
Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya terjadinya presipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible), yang selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif. Contoh: interaksi karbcnisilin dengan gentamisin terjadi inaktivasi; fenitoin dengan larutan dextrosa 5% terjadi presipitasi; amfoterisin B dengan larutan NaCl fisiologik, terjadi presipitasi.
2.2.2 Interaksi farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda. Contohnya,
interaksi farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin, aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya.
A.    Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestina
Mekanisme interaksi yang melibatkan absorpsi gastrointestinal dapat terjadi melalui beberapa cara:
(1) secara langsung, sebelum absorpsi;
(2) terjadi perubahan pH cairan gastrointestinal;
(3) penghambatan transport aktif gastrointestinal;
 (4) adanya perubahan flora usus dan
(5) efek makanan.
Interaksi yang terjadi secara langsung sebelum obat diabsorpsi contohnya adalah interaksi antibiotika (tetrasiklin, fluorokuinolon) dengan besi (Fe) dan antasida yang mengandung Al, Ca, Mg, terbentuk senyawa chelate yang tidak larut sehingga obat antibiotika tidak diabsorpsi. Obat obat seperti digoksin, siklosporin, asam valproat menjadi inaktif jika diberikan bersama adsorben (kaolin, charcoal) atau anionic exchange resins (kolestiramin, kolestipol). Terjadinya perubahan pH cairan gastrointestinal, misalnya peningkatan pH karena adanya antasida, penghambat-H2, ataupun penghambat pompa-proton akan menurunkan absorpsi basa-basa lemah (misal, ketokonazol, itrakonazol) dan akan meningkatkan absorpsi obat-obat asam lemah (misal, glibenklamid, glipizid, tolbutamid). Peningkatan pH cairan gastrointestinal akan menurunkan absorpsi antibiotika golongan selafosporin seperti sefuroksim aksetil dan sefpodoksim proksetil
Mekanisme interaksi melalui penghambatan transport aktif gastrointestinal, misalnya grapefruit juice, yakni suatu inhibitor protein transporter uptake pump di saluran cerna, akan menurunkan bioavailabilitas beta-bloker dan beberapa antihistamin (misalnya, fexofenadin) jika diberikan bersama-sama. Pemberian digoksin bersama inhibitor transporter efflux pump Pglikoprotein (a.l. ketokonazol, amiodarone, quinidin) akan meningkatkan kadar plasma digoksin sebesar 60-80% dan menyebabkan intoksikasi (blokade jantung derajat-3), menurunkan ekskresinya lewat empedu, dan menurunkan sekresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal.
Adanya perubahan flora usus, misalnya akibat penggunaan antibiotika berspektrum luas yang mensupresi flora usus dapat menyebabkan menurunnya konversi obat menjadi komponen aktif. Efek makanan terhadap absorpsi terlihat misalnya pada penurunan absorpsi penisilin, rifampisin, INH, atau peningkatan absorpsi HCT, fenitoin, nitrofurantoin, halofantrin, albendazol, mebendazol karena pengaruh adanya makanan. Makanan juga dapat menurunkan metabolisme lintas pertama dari propranolol, metoprolol, da hidralazine sehingga bioavailabilitas obat-obat tersebut meningkat, dan makanan berlema meningkatkan absorpsi obat-obat yang sukar laru dalam air seperti griseovulvin dan danazol

B.     Interaksi yang terjadi pada proses distribusi
Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: (1) obat indeks memiliki ikatan protein sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas keamanan sempit; (2) oba presipitan berikatan dengan albumin pada tempa ikatan (finding site) yang sama dengan oba indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding-site nya. Contohnya, fenilbutazon dapat menggese warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein 96%, Vd = 0,12 I/kg, sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat metabolisme warfarin dan tolbutamid.

C.     Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme
Mekanisme interaksi dapat berupa :
(1) penghambatan (inhibisi) metabolisme,
(2) induksi metabolisme, dan
(3) perubahan aliran darah hepatik.
Hambatan ataupun induksi enzim pada proses metabolisme obat terutama berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan substrat enzim mikrosom hati sitokrom P450 (CYP). Beberapa isoenzim CYP yang penting dalam metabolisme obat, antara lain: CYP2D6 yang dikenal juga sebagai debrisoquin hidroksilase dan merupakan isoenzim CYP pertama yang diketahui, aktivitasnya dihambat oleh obat-obat seperti kuinidin, paroxetine, terbinafine; CYP3A yang memetabolisme lebih dari 50% obat-obat yang banyak digunakan dan terdapat selain di hati juga di usus halus dan ginjal, antara lain dihambat oleh ketokonazol, itrakonazol, eritromisin, klaritromisin, diltiazem, nefazodon; CYP1A2 merupakan ezim pemetabolis penting di hati untuk teofilin, kofein, klozapin dan R-warfarin, dihambat oleh obat-obat seperti siprofloksasin,fluvoksamin.11"' TABEL 1 menunjukkan contoh isoenzim CYP serta
Beberapa contoh substrat, inhibitor dan induktornya. Interaksi inhibitor CYP dengan substratnya akan menyebabkan peningkatan kadar plasma atau peningkatan bioavailabilitas sehingga memungkinkan aktivitas substrat meningkat sampai terjadinya efek samping yang tidak dikehendaki. Berikut ini adalah contoh-contoh interaksi yang melibatkan inhibitor CYP dengan substratnya:
(1) Interaksi terfenadin, astemizol, cisapride (substrat CYP3A4/5) dengan ketokonazol, itrakonazol, etitromisin, atau klaritromisin (inhibitor poten CYP3A4/5) akan meningkatkan kadar substrat, yang menyebabkan toksisitas berupa perpanjangan interval QT yang berakibat terjadinya aritmia ventrikel (torsades de pointes) yang fatal (cardiac infarct)  
(2) Interaksi triazolam, midazolam (substrat) dengan ketokonazol, eritromisin (inhibitor) akan meningkatkan kadar substrat, meningkatkan bioavailabilitas (AUC) sebesar 12 kali, yang berakibat efek sedasi obat-obat sedative di atas meningkat denganjelas. Induktor atau zat yang menginduksi enzim pemetabolis (CYP) akan meningkatkan sistensis enzim tersebut.
Interaksi induktor CYP dengan substratnya menyebabkan laju kecepata metabolisme obat (substrat) meningkat sehingga kadarnya menurun dan efikasi obat akan menurun; atau sebaliknya, induksi CYP menyebabkan meningkatnya pembentukan metabolit yang bersifat reaktif sehingga memungkinkan timbulnya risiko toksik. Berikut adalah contoh contoh interaksi yang melibatkan induktor CYP dengan substratnya:
(1) Kontraseptik oral (hormon estradiol) dengan adanya induktor enzim seperti rifampisin, deksametason, menyebabkan kadar estradiol menurun sehingga efikasi kontraseptik oral menurun.
(2) Asetaminofen (parasetamol) yang merupakan substrat CYP2E1, dengan adanya induktor enzim seperti etanol, ENH, fenobarbital yang diberikan secara terus menerus (kronik), menyebabkan peningkatan metabolisme asetaminofen menjadi metabolit reaktif sehingga meningkatkan risiko terjadinya hepatotoksisitas.
 (3) Teofilin (substrat CYP1A2) pada perokok (hidrokarbon polisiklik aromatik pada asap sigaret adalah induktor CYP1A2), atau jika diberikan bersama karbamazepin (induktor),  akan meningkatkan metabolisme teofilin sehingga diperlukan dosis teofilin lebih tinggi. Tetapi jika pemberian karbamazepindihentikan sementara dosis teofilin tidak diubah, dapat terjadi intoksikasi teofilin yang berat.




















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan  Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Dalam proses mekanisme. Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi. Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi.
3.2. Saran
                  Untuk menghindari interaksi obat pada makanan sebaiknya kenalilah sebanyak mungkin kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-obat yang sering diberikan bersamaan pada makanan. Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan dengan dokter yang meresepkan. Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantum dalam label atau wadah obat. Bahkan obat yang dijual bebas juga perlu aturan pakai yang disarankan.





DAFTAR PUSTAKA

Ashraf Mozayani and Lionel P.Raymon, Handbook of drug interactions: A  
Clinical and Forensic guide 2004

Harkness, Richard, 1989, Interaksi Obat, Penerbit ITB: Bandung.

M. Ashraf and  Raymon L. 2004, Handbook of Drug Interactions: A Clinical and Forensic