Makalah
INTERAKSI
NUTRIENT DAN SUBSTANSI LAIN
‘’Pengertian
Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada Interaksi Obat dan Makanan’’
Oleh
KELOMPOK
PUTRI SULHAM
WIJAYA D1C1 13 071
VICKY SAFRIANI D1C1 13 068
NURLIA D1C1
13 085
JURUSAN ILMU DAN
TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN
INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan dan Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
Interaksi Obat pada makanan
2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan
2.2. Mekanisme terjadinya interaksi-obat
2.2.1 Interaksi farmasetik
2.2.2
Interaksi
farmakokinetik
A.
Interaksi yang terjadi
pada proses absorpsi gastrointestina
B.
Interaksi yang terjadi pada proses
distribusi
C.
Interaksi yang terjadi pada proses
metabolisme
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
Kata Pengantar
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT Atas Rahmat dan Hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
ini yang berjudul ‘’ Pengertian Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada
Interaksi Obat dan Makanan’’ dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Penulis menyadari di dalam penulisan
makalah ini terdapat banyak kekurangan oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian, dari penulis semoga
maklaah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin Ya Rabbal’alamiin
Kendari,
21 April 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Selama ini, di
masyarakat terdapat berbagai macam image terkait cara minum obat. Jika kita
ingin meluruskan image yang salah tentang pemakaian obat, mau tak mau kita
harus memiliki ilmu farmakokinetika, yakni ilmu tentang nasib obat di dalam
badan. Prinsip farmakokinetika pada manusia bertujuan membuat regimen dosis
individu dengan mengoptimalkan respon terapi pada pengobatan dan meminimalkan
adanya respon efek samping. Farmakokinetik adalah cabang farmakologi yang
dikaitkan dengan penentuan nasib obat dalam tubuh.
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat
obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua
atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau
toksisitas satu atau lebih akan berubah . Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di
keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi,
distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses
tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan
suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan
yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik
adalah interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan) yang bekerja pada
reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi
farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan
bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme,
dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar
obat dalam darah.
1.2. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar
belakang diatas adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan interaksi obat dan makanan ?
2.
Bagaimana proses mekanisme yang terjadinya interaksi obat dan
makanan ?
1.3. Tujuan
dan manfaat
Adapun
tujuan dari makalah ini yaitu mahasiswa dapat menjelaskan interaksi obat dan
makanan, serta proses mekanisme yang terjadi pada interaksi obat dan makanan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Interaksi Obat dan Makanan
Ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat, perubahan tersebut dianggap sebagai interaksi obat-makanan. Interaksi seperti itu bisa terjadi. itu bisa terjadi. Tetapi tidak semua obat
dipengaruhi
oleh makanan,
dan beberapa obat hanya dipengaruhi oleh makanan-makanan tertentu. Interaksi obat-makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan, obat yang dibeli bebas, produk herbal, dan suplemen. Meskipun beberapa interaksi mungkin berbahaya atau bahkan fatal pada kasus yang langka, interaksi yang lain bisa bermanfaat dan umumnya tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kesehatan tubuh.
Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Salah satu cara yang paling umum makanan mempengaruhi efek obat adalah
dengan mengubah
cara
obat-obat
tersebut diuraikan
( dimetabolisme ) oleh tubuh. Jenis protein yang disebut enzim, memetabolisme banyak
obat. Beberapa makanan dapat membuat enzim-enzim ini bekerja lebih
cepat atau lebih lambat, baik dengan memperpendek atau memperpanjang waktu yang dilalui obat
di
dalam tubuh. Jika makanan mempercepat
enzim, obat akan lebih singkat berada di dalam tubuh dan dapat menjadi kurang efekteif. Jika makanan memperlambat
enzim, obat akan berada lebih lama dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek samping yang
tidak dikehendaki.
Kemungkinan-kemungkinan
yang menyebabkan
dapat terjadinya
interaksi obat dengan makanan adalah :
1.
Perubahan motilitas lambung dan usus, terutama kecepatan pengosongan lambung dari saat masuknya makanan
2.
Perubahan pH, sekresi asam serta produksi empedu
3.
Perubahan suplai darah di daerah splanchnicus
dan di mukosa saluran cerna
4.
Dipengaruhinya absorpsi obat oleh proses
adsorpsi dan pembentukan kompleks
5.
Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan
2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
Obat-obat
yang dikonsumsi dapat saling mempengaruhi yang dampaknya bisa
negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan. Saling pengaruh yang
terjadi bila kita menggunakan lebih dari 1 macam obat disebut juga
interaksi obat. Dalam praktek sehari-hari, interaksi obat jarang
dikatakan sebagai akibat kegagalan pengobatan. Sesungguhnya
pemberian obat kepada pasien yang
terlampau banyak jenisnya, misalnya lebih dari 4 macam, sangat
potensial menimbulkan efek yang tidak diinginkan akibat interaksi
obat. Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau
dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan.
Kemungkinan
terjadinya peristiwa
interksi harus selalu dipertimbangkan
dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau
hampior bersamaan. Tidak semua
interaksi obat membawa pengaruh yang merugikan, beberapa interaksi justru
diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan. Interaksi dapat membawa dampak
yang merugikan kalau terjadinya interaksi
tersebut sampai tidak dikenali
sehingga tidak dapat dilakukan
upaya-upaya optimalisasi. Secara
ringkas dampak negatif dari interaksi ini kemungkinan akan
timbul sebagai:
Ă¼ Tidak
tercapainya efek terapetik yang
diinginkan
Ă¼ terjadi efek
samping
Faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya interaksi obat yaitu :
1. Obat dengan indek terapi sempit.
2. Obat yang mempunyai bioavaibilitas rendah.
3. Formulasi obat.
4. Stereokimia obat.
5. Potensi obat.
6. Obat yang mempunyai kurva dosis respon yang tajam / curam.
7. Lama terapi / penggunaan obat.
8. Dosis obat.
9. Konsentrasi obat dalam darah dan jaringan (cairan tubuh).
10. Waktu dan urutan penggunaan obat.
11. Rute penggunaan obat
12. Base line dari interaksi dan indek terapi.
13. Jumlah obat yang mengalami metabolism.
14. Kecepatan metabolisme
15. Ikatan obat dengan protein
16. Volume distribusi
17. Problem farmakokinetik
1. Obat dengan indek terapi sempit.
2. Obat yang mempunyai bioavaibilitas rendah.
3. Formulasi obat.
4. Stereokimia obat.
5. Potensi obat.
6. Obat yang mempunyai kurva dosis respon yang tajam / curam.
7. Lama terapi / penggunaan obat.
8. Dosis obat.
9. Konsentrasi obat dalam darah dan jaringan (cairan tubuh).
10. Waktu dan urutan penggunaan obat.
11. Rute penggunaan obat
12. Base line dari interaksi dan indek terapi.
13. Jumlah obat yang mengalami metabolism.
14. Kecepatan metabolisme
15. Ikatan obat dengan protein
16. Volume distribusi
17. Problem farmakokinetik
2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan
Tidak semua obat berinteraksi dengan makanan. Namun, banyak
obat-obatan yang dipengaruhi oleh makanan tertentu dan waktu Anda memakannya.
Berikut adalah beberapa contohnya:
- Jus jeruk menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme obat sehingga mengintensifkan pengaruh obat-obatan tertentu. Peningkatan pengaruh obat mungkin kelihatannya baik, padahal tidak. Jika obat diserap lebih dari yang diharapkan, obat tersebut akan memiliki efek berlebihan. Misalnya, obat untuk membantu mengurangi tekanan darah bisa menurunkan tekanan darah terlalu jauh. Konsumsi jus jeruk pada saat yang sama dengan obat penurun kolesterol juga meningkatkan penyerapan bahan aktifnya dan menyebabkan kerusakan otot yang parah. Jeruk yang dimakan secara bersamaan dengan obat anti-inflamasi atau aspirin juga dapat memicu rasa panas dan asam di perut.
- Kalsium atau makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan produk susu lainnya dapat mengurangi penyerapan tetrasiklin.
- Makanan yang kaya vitamin K (kubis, brokoli, bayam, alpukat, selada) harus dibatasi konsumsinya jika sedang mendapatkan terapi antikoagulan (misalnya warfarin), untuk mengencerkan darah. Sayuran itu mengurangi efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko trombosis (pembekuan darah).
- Kafein meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu (enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).Untuk menghindari keluhan palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan
2.2.
Mekanisme terjadinya interaksi-obat
Mekanisme interaksi obat dapat melalui beberapa cara, yakni :
1)
interaksi secara farmasetik (inkompatibilitas)
2) interaksi secara farmakokinetik dan
2.2.1 Interaksi farmasetik
Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik
bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya terjadinya
presipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible), yang
selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif. Contoh: interaksi
karbcnisilin dengan gentamisin terjadi inaktivasi; fenitoin dengan larutan
dextrosa 5% terjadi presipitasi; amfoterisin B dengan larutan NaCl fisiologik,
terjadi presipitasi.
2.2.2 Interaksi farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar
plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat
tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih
dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat fisikokimia,
yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda. Contohnya,
interaksi farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin, aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya.
interaksi farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin, aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya.
A.
Interaksi yang terjadi
pada proses absorpsi gastrointestina
Mekanisme interaksi yang melibatkan absorpsi gastrointestinal
dapat terjadi melalui beberapa cara:
(1)
secara langsung, sebelum absorpsi;
(2)
terjadi perubahan pH cairan gastrointestinal;
(3)
penghambatan transport aktif gastrointestinal;
(4) adanya perubahan flora usus dan
(5)
efek makanan.
Interaksi yang terjadi secara langsung sebelum obat diabsorpsi
contohnya adalah interaksi antibiotika (tetrasiklin, fluorokuinolon) dengan
besi (Fe) dan antasida yang mengandung Al, Ca, Mg, terbentuk senyawa chelate
yang tidak larut sehingga obat antibiotika tidak diabsorpsi. Obat obat
seperti digoksin, siklosporin, asam valproat menjadi inaktif jika diberikan
bersama adsorben (kaolin, charcoal) atau anionic exchange resins
(kolestiramin, kolestipol). Terjadinya perubahan pH cairan
gastrointestinal, misalnya peningkatan pH karena adanya antasida,
penghambat-H2, ataupun penghambat pompa-proton akan menurunkan absorpsi
basa-basa lemah (misal, ketokonazol, itrakonazol) dan akan meningkatkan
absorpsi obat-obat asam lemah (misal, glibenklamid, glipizid, tolbutamid).
Peningkatan pH cairan gastrointestinal akan menurunkan absorpsi antibiotika
golongan selafosporin seperti sefuroksim aksetil dan sefpodoksim proksetil
Mekanisme interaksi melalui penghambatan transport aktif
gastrointestinal, misalnya grapefruit juice, yakni suatu inhibitor
protein transporter uptake pump di saluran cerna, akan menurunkan
bioavailabilitas beta-bloker dan beberapa antihistamin (misalnya, fexofenadin)
jika diberikan bersama-sama. Pemberian digoksin bersama inhibitor
transporter efflux pump Pglikoprotein (a.l. ketokonazol, amiodarone,
quinidin) akan meningkatkan kadar plasma digoksin sebesar 60-80% dan
menyebabkan intoksikasi (blokade jantung derajat-3), menurunkan ekskresinya
lewat empedu, dan menurunkan sekresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal.
Adanya perubahan flora usus, misalnya akibat penggunaan
antibiotika berspektrum luas yang mensupresi flora usus dapat menyebabkan
menurunnya konversi obat menjadi komponen aktif. Efek makanan terhadap absorpsi
terlihat misalnya pada penurunan absorpsi penisilin, rifampisin, INH, atau
peningkatan absorpsi HCT, fenitoin, nitrofurantoin, halofantrin, albendazol,
mebendazol karena pengaruh adanya makanan. Makanan juga dapat menurunkan
metabolisme lintas pertama dari propranolol, metoprolol, da hidralazine
sehingga bioavailabilitas obat-obat tersebut meningkat, dan makanan berlema
meningkatkan absorpsi obat-obat yang sukar laru dalam air seperti griseovulvin
dan danazol
B. Interaksi
yang terjadi pada proses distribusi
Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi
karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses
distribusi akan bermakna klinik jika: (1) obat indeks memiliki ikatan protein
sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas
keamanan sempit; (2) oba presipitan berikatan dengan albumin pada tempa ikatan (finding
site) yang sama dengan oba indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk
menempati dan menjenuhkan binding-site nya. Contohnya, fenilbutazon
dapat menggese warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid
(ikatan protein 96%, Vd = 0,12 I/kg, sehingga kadar plasma warfarin dan
tolbutamid bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat
metabolisme warfarin dan tolbutamid.
C.
Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme
Mekanisme interaksi dapat berupa :
(1) penghambatan
(inhibisi) metabolisme,
(2) induksi
metabolisme, dan
(3)
perubahan aliran darah hepatik.
Hambatan ataupun induksi enzim pada proses metabolisme obat
terutama berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan substrat enzim
mikrosom hati sitokrom P450 (CYP). Beberapa isoenzim CYP yang penting dalam metabolisme
obat, antara lain: CYP2D6 yang dikenal juga sebagai debrisoquin hidroksilase
dan merupakan isoenzim CYP pertama yang diketahui, aktivitasnya dihambat oleh
obat-obat seperti kuinidin, paroxetine, terbinafine; CYP3A yang memetabolisme
lebih dari 50% obat-obat yang banyak digunakan dan terdapat selain di hati juga
di usus halus dan ginjal, antara lain dihambat oleh ketokonazol, itrakonazol,
eritromisin, klaritromisin, diltiazem, nefazodon; CYP1A2 merupakan ezim pemetabolis
penting di hati untuk teofilin, kofein, klozapin dan R-warfarin, dihambat oleh
obat-obat seperti siprofloksasin,fluvoksamin.11"' TABEL 1 menunjukkan
contoh isoenzim CYP serta
Beberapa contoh substrat, inhibitor dan induktornya. Interaksi
inhibitor CYP dengan substratnya akan menyebabkan peningkatan kadar plasma atau
peningkatan bioavailabilitas sehingga memungkinkan aktivitas substrat meningkat
sampai terjadinya efek samping yang tidak dikehendaki. Berikut ini adalah
contoh-contoh interaksi yang melibatkan inhibitor CYP dengan
substratnya:
(1)
Interaksi terfenadin, astemizol, cisapride (substrat CYP3A4/5) dengan
ketokonazol, itrakonazol, etitromisin, atau klaritromisin (inhibitor poten
CYP3A4/5) akan meningkatkan kadar substrat, yang menyebabkan toksisitas berupa
perpanjangan interval QT yang berakibat terjadinya aritmia ventrikel (torsades
de pointes) yang fatal (cardiac infarct)
(2)
Interaksi triazolam, midazolam (substrat) dengan ketokonazol, eritromisin
(inhibitor) akan meningkatkan kadar substrat, meningkatkan bioavailabilitas
(AUC) sebesar 12 kali, yang berakibat efek sedasi obat-obat sedative di atas
meningkat denganjelas. Induktor atau zat yang menginduksi enzim pemetabolis
(CYP) akan meningkatkan sistensis enzim tersebut.
Interaksi induktor CYP dengan substratnya menyebabkan laju kecepata
metabolisme obat (substrat) meningkat sehingga kadarnya menurun dan efikasi
obat akan menurun; atau sebaliknya, induksi CYP menyebabkan meningkatnya
pembentukan metabolit yang bersifat reaktif sehingga memungkinkan timbulnya
risiko toksik. Berikut adalah contoh contoh interaksi yang melibatkan induktor
CYP dengan substratnya:
(1)
Kontraseptik oral (hormon estradiol) dengan adanya induktor enzim seperti
rifampisin, deksametason, menyebabkan kadar estradiol menurun sehingga efikasi
kontraseptik oral menurun.
(2)
Asetaminofen (parasetamol) yang merupakan substrat CYP2E1, dengan adanya
induktor enzim seperti etanol, ENH, fenobarbital yang diberikan secara terus
menerus (kronik), menyebabkan peningkatan metabolisme asetaminofen menjadi
metabolit reaktif sehingga meningkatkan risiko terjadinya hepatotoksisitas.
(3) Teofilin (substrat CYP1A2) pada perokok
(hidrokarbon polisiklik aromatik pada asap sigaret adalah induktor CYP1A2),
atau jika diberikan bersama karbamazepin (induktor), akan meningkatkan metabolisme teofilin
sehingga diperlukan dosis teofilin lebih tinggi. Tetapi jika pemberian
karbamazepindihentikan sementara dosis teofilin tidak diubah, dapat terjadi
intoksikasi teofilin yang berat.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat
disimpulkan Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan.
Dalam proses mekanisme. Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik
bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi. Interaksi dalam proses
farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME)
dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara
farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak
berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi.
3.2. Saran
Untuk menghindari interaksi obat
pada makanan sebaiknya kenalilah sebanyak mungkin
kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-obat yang sering diberikan bersamaan
pada makanan. Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan dengan dokter yang meresepkan. Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantum dalam label atau wadah obat. Bahkan
obat yang dijual bebas juga perlu aturan
pakai yang disarankan.
DAFTAR PUSTAKA
Ashraf
Mozayani and Lionel P.Raymon, Handbook of drug interactions: A
Clinical
and Forensic guide 2004
Harkness,
Richard, 1989, Interaksi Obat, Penerbit ITB: Bandung.
M. Ashraf
and Raymon L. 2004, Handbook of Drug Interactions: A Clinical and
Forensic

Tidak ada komentar:
Posting Komentar