Selasa, 03 Januari 2017

INTERAKSI NUTRIENT DAN SUBSTANSI LAIN



Makalah
INTERAKSI NUTRIENT DAN SUBSTANSI LAIN
‘’Pengertian Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada Interaksi Obat dan Makanan’’
 







Oleh
KELOMPOK
                           PUTRI SULHAM WIJAYA        D1C1 13 071
  VICKY SAFRIANI                      D1C1 13 068
  NURLIA                                       D1C1 13 085

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016






DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan dan Manfaat

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Interaksi Obat pada makanan
2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan
2.2. Mekanisme terjadinya interaksi-obat
2.2.1 Interaksi farmasetik
2.2.2        Interaksi farmakokinetik
A.    Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestina
B.     Interaksi yang terjadi pada proses distribusi
C.     Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA













Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat  Allah SWT Atas Rahmat dan Hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul ‘’ Pengertian Fase Absorbsi, Distribusi, dan Metabolisme pada Interaksi Obat dan Makanan’’ dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Penulis menyadari di dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
            Demikian, dari penulis semoga maklaah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin Ya Rabbal’alamiin



           
                                                                        Kendari, 21 April 2016




                                                                                    Penulis










BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
             Selama ini, di masyarakat terdapat berbagai macam image terkait cara minum obat. Jika kita ingin meluruskan image yang salah tentang pemakaian obat, mau tak mau kita harus memiliki ilmu farmakokinetika, yakni ilmu tentang nasib obat di dalam badan. Prinsip farmakokinetika pada manusia bertujuan membuat regimen dosis individu dengan mengoptimalkan respon terapi pada pengobatan dan meminimalkan adanya respon efek samping. Farmakokinetik adalah cabang farmakologi yang dikaitkan dengan penentuan nasib obat dalam tubuh.
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau lebih obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu atau lebih akan berubah . Di dalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat di keluarkan lagi dari tubuh. Proses-proses tersebut meliputi, absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi di dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu interaksi farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2 atau lebih obat yang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau menurunkan salah satu kadar obat dalam darah.

1.2. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan interaksi obat dan makanan ?
2.      Bagaimana proses  mekanisme yang terjadinya interaksi obat dan makanan ?
1.3. Tujuan dan manfaat
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu mahasiswa dapat menjelaskan interaksi obat dan makanan, serta proses mekanisme yang terjadi pada interaksi obat dan makanan.


























BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Interaksi Obat dan Makanan
Ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat, perubahan tersebut dianggap sebagai interaksi obat-makanan. Interaksi seperti itu bisa terjadi. itu bisa terjadi. Tetapi tidak semua obat  dipengaruhi  oleh  makanan,  dan  beberapa  obat  hanya  dipengaruhi  oleh  makanan-makanan tertentu. Interaksi obat-makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan, obat yang dibeli bebas, produk herbal, dan suplemen. Meskipun beberapa interaksi mungkin  berbahaya atau bahkan fatal pada kasus yang langka, interaksi yang lain bisa bermanfaat dan umumnya tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kesehatan tubuh. Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Salah satu cara yang paling umum makanan mempengaruhi efek obat adalah dengan mengubah cara obat-obat tersebut diuraikan ( dimetabolisme ) oleh tubuh. Jenis protein yang disebut enzim, memetabolisme banyak obat. Beberapa makanan dapat membuat enzim-enzim ini bekerja lebih cepat atau lebih lambat, baik dengan memperpendek atau memperpanjang waktu yang dilalui obat  di dalam tubuh.  Jika makanan mempercepat  enzim, obat  akan lebih singkat berada di dalam tubuh dan dapat  menjadi kurang efekteif.  Jika makanan memperlambat enzim, obat akan berada lebih lama dalam tubuh dan dapat menyebabkan efek samping yang tidak dikehendaki. Kemungkinan-kemungkinan  yang   menyebabkan  dapat  terjadinya   interaksi  obat dengan makanan adalah :
1.          Perubahan motilitas lambung dan usus, terutama kecepatan pengosongan lambung dari saat masuknya makanan
2.          Perubahan pH, sekresi asam serta produksi empedu
3.          Perubahan suplai darah di daerah splanchnicus dan di mukosa saluran cerna
4.          Dipengaruhinya absorpsi obat oleh proses adsorpsi dan pembentukan kompleks
5.          Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan

2.1.1. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan
Obat-obat yang dikonsumsi dapat saling   mempengaruhi yang dampaknya bisa negatif dan bisa juga positif bagi kesehatan.   Saling pengaruh yang terjadi bila kita menggunakan lebih dari 1 macam   obat disebut juga interaksi obat. Dalam praktek sehari-hari, interaksi obat   jarang dikatakan sebagai   akibat  kegagalan pengobatan. Sesungguhnya  pemberian obat  kepada   pasien  yang    terlampau banyak jenisnya, misalnya lebih dari 4 macam,  sangat potensial   menimbulkan efek yang tidak diinginkan akibat interaksi obat. Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh  obat  lain  yang diberikan bersamaan. 
Kemungkinan   terjadinya    peristiwa    interksi    harus   selalu dipertimbangkan   dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau hampior   bersamaan. Tidak   semua   interaksi  obat membawa pengaruh yang merugikan, beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan. Interaksi dapat membawa dampak yang   merugikan kalau terjadinya interaksi   tersebut   sampai   tidak   dikenali  sehingga   tidak   dapat dilakukan    upaya-upaya    optimalisasi.   Secara ringkas    dampak negatif dari interaksi ini kemungkinan akan timbul sebagai:  
Ă¼   Tidak tercapainya efek terapetik yang  diinginkan
Ă¼  terjadi efek samping
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi obat yaitu :
1.    Obat dengan indek terapi sempit.
2.    Obat yang mempunyai bioavaibilitas rendah.
3.    Formulasi obat.
4.    Stereokimia obat.
5.    Potensi obat.
6.    Obat yang mempunyai kurva dosis respon yang tajam / curam.
7.    Lama terapi / penggunaan obat.
8.    Dosis obat.
9.    Konsentrasi obat dalam darah dan jaringan (cairan tubuh).
10.    Waktu dan urutan penggunaan obat.
11.    Rute penggunaan obat
12.    Base line dari interaksi dan indek terapi.
13.    Jumlah obat yang mengalami metabolism.
14.    Kecepatan metabolisme
15.    Ikatan obat dengan protein
16.    Volume distribusi
17.    Problem farmakokinetik

2.1.2 Beberapa contoh interaksi obat dan makanan

Tidak semua obat berinteraksi dengan makanan. Namun, banyak obat-obatan yang dipengaruhi oleh makanan tertentu dan waktu Anda memakannya. Berikut adalah beberapa contohnya:
  • Jus jeruk menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme obat sehingga mengintensifkan pengaruh obat-obatan tertentu. Peningkatan pengaruh obat mungkin kelihatannya baik, padahal tidak. Jika obat diserap lebih dari yang diharapkan, obat tersebut akan memiliki efek berlebihan. Misalnya, obat untuk membantu mengurangi tekanan darah bisa menurunkan tekanan darah terlalu jauh. Konsumsi jus jeruk pada saat yang sama dengan obat penurun kolesterol juga meningkatkan penyerapan bahan aktifnya dan menyebabkan kerusakan otot yang parah. Jeruk yang dimakan secara bersamaan dengan obat anti-inflamasi atau aspirin juga dapat memicu rasa panas dan asam di perut.
  • Kalsium atau makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan produk susu lainnya dapat mengurangi penyerapan tetrasiklin.
  • Makanan yang kaya vitamin K (kubis, brokoli, bayam, alpukat, selada) harus dibatasi konsumsinya jika sedang mendapatkan terapi antikoagulan (misalnya warfarin), untuk mengencerkan darah. Sayuran itu mengurangi efektivitas pengobatan dan meningkatkan risiko  trombosis (pembekuan darah).
  • Kafein meningkatkan risiko overdosis antibiotik tertentu (enoxacin, ciprofloxacin, norfloksasin).Untuk menghindari keluhan palpitasi, tremor, berkeringat atau halusinasi, yang terbaik adalah menghindari minum kopi, teh atau soda pada masa pengobatan
2.2. Mekanisme terjadinya interaksi-obat
Mekanisme interaksi obat dapat melalui beberapa cara, yakni :
1) interaksi secara farmasetik (inkompatibilitas)
 2) interaksi secara farmakokinetik dan
2.2.1 Interaksi farmasetik
Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi, misalnya terjadinya presipitasi, perubahan warna, tidak terdeteksi (invisible), yang selanjutnya menyebabkan obat menjadi tidak aktif. Contoh: interaksi karbcnisilin dengan gentamisin terjadi inaktivasi; fenitoin dengan larutan dextrosa 5% terjadi presipitasi; amfoterisin B dengan larutan NaCl fisiologik, terjadi presipitasi.
2.2.2 Interaksi farmakokinetik
Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi, disebabkan karena adanya perbedaan sifat fisikokimia, yang menghasilkan sifat farmakokinetik yang berbeda. Contohnya,
interaksi farmakokinetik oleh simetidin tidak dimiliki oleh H2-bloker lainnya; interaksi oleh terfenadin, aztemizole tidak dimiliki oleh antihistamin non-sedatif lainnya.
A.    Interaksi yang terjadi pada proses absorpsi gastrointestina
Mekanisme interaksi yang melibatkan absorpsi gastrointestinal dapat terjadi melalui beberapa cara:
(1) secara langsung, sebelum absorpsi;
(2) terjadi perubahan pH cairan gastrointestinal;
(3) penghambatan transport aktif gastrointestinal;
 (4) adanya perubahan flora usus dan
(5) efek makanan.
Interaksi yang terjadi secara langsung sebelum obat diabsorpsi contohnya adalah interaksi antibiotika (tetrasiklin, fluorokuinolon) dengan besi (Fe) dan antasida yang mengandung Al, Ca, Mg, terbentuk senyawa chelate yang tidak larut sehingga obat antibiotika tidak diabsorpsi. Obat obat seperti digoksin, siklosporin, asam valproat menjadi inaktif jika diberikan bersama adsorben (kaolin, charcoal) atau anionic exchange resins (kolestiramin, kolestipol). Terjadinya perubahan pH cairan gastrointestinal, misalnya peningkatan pH karena adanya antasida, penghambat-H2, ataupun penghambat pompa-proton akan menurunkan absorpsi basa-basa lemah (misal, ketokonazol, itrakonazol) dan akan meningkatkan absorpsi obat-obat asam lemah (misal, glibenklamid, glipizid, tolbutamid). Peningkatan pH cairan gastrointestinal akan menurunkan absorpsi antibiotika golongan selafosporin seperti sefuroksim aksetil dan sefpodoksim proksetil
Mekanisme interaksi melalui penghambatan transport aktif gastrointestinal, misalnya grapefruit juice, yakni suatu inhibitor protein transporter uptake pump di saluran cerna, akan menurunkan bioavailabilitas beta-bloker dan beberapa antihistamin (misalnya, fexofenadin) jika diberikan bersama-sama. Pemberian digoksin bersama inhibitor transporter efflux pump Pglikoprotein (a.l. ketokonazol, amiodarone, quinidin) akan meningkatkan kadar plasma digoksin sebesar 60-80% dan menyebabkan intoksikasi (blokade jantung derajat-3), menurunkan ekskresinya lewat empedu, dan menurunkan sekresinya oleh sel-sel tubulus ginjal proksimal.
Adanya perubahan flora usus, misalnya akibat penggunaan antibiotika berspektrum luas yang mensupresi flora usus dapat menyebabkan menurunnya konversi obat menjadi komponen aktif. Efek makanan terhadap absorpsi terlihat misalnya pada penurunan absorpsi penisilin, rifampisin, INH, atau peningkatan absorpsi HCT, fenitoin, nitrofurantoin, halofantrin, albendazol, mebendazol karena pengaruh adanya makanan. Makanan juga dapat menurunkan metabolisme lintas pertama dari propranolol, metoprolol, da hidralazine sehingga bioavailabilitas obat-obat tersebut meningkat, dan makanan berlema meningkatkan absorpsi obat-obat yang sukar laru dalam air seperti griseovulvin dan danazol

B.     Interaksi yang terjadi pada proses distribusi
Mekanisme interaksi yang melibatkan proses distribusi terjadi karena pergeseran ikatan protein plasma. Interaksi obat yang melibatkan proses distribusi akan bermakna klinik jika: (1) obat indeks memiliki ikatan protein sebesar > 85%, volume distribusi (Vd) obat < 0,15 I/kg dan memiliki batas keamanan sempit; (2) oba presipitan berikatan dengan albumin pada tempa ikatan (finding site) yang sama dengan oba indeks, serta kadarnya cukup tinggi untuk menempati dan menjenuhkan binding-site nya. Contohnya, fenilbutazon dapat menggese warfarin (ikatan protein 99%; Vd = 0,14 I/kg) dan tolbutamid (ikatan protein 96%, Vd = 0,12 I/kg, sehingga kadar plasma warfarin dan tolbutamid bebas meningkat. Selain itu, fenilbutazon juga menghambat metabolisme warfarin dan tolbutamid.

C.     Interaksi yang terjadi pada proses metabolisme
Mekanisme interaksi dapat berupa :
(1) penghambatan (inhibisi) metabolisme,
(2) induksi metabolisme, dan
(3) perubahan aliran darah hepatik.
Hambatan ataupun induksi enzim pada proses metabolisme obat terutama berlaku terhadap obat-obat atau zat-zat yang merupakan substrat enzim mikrosom hati sitokrom P450 (CYP). Beberapa isoenzim CYP yang penting dalam metabolisme obat, antara lain: CYP2D6 yang dikenal juga sebagai debrisoquin hidroksilase dan merupakan isoenzim CYP pertama yang diketahui, aktivitasnya dihambat oleh obat-obat seperti kuinidin, paroxetine, terbinafine; CYP3A yang memetabolisme lebih dari 50% obat-obat yang banyak digunakan dan terdapat selain di hati juga di usus halus dan ginjal, antara lain dihambat oleh ketokonazol, itrakonazol, eritromisin, klaritromisin, diltiazem, nefazodon; CYP1A2 merupakan ezim pemetabolis penting di hati untuk teofilin, kofein, klozapin dan R-warfarin, dihambat oleh obat-obat seperti siprofloksasin,fluvoksamin.11"' TABEL 1 menunjukkan contoh isoenzim CYP serta
Beberapa contoh substrat, inhibitor dan induktornya. Interaksi inhibitor CYP dengan substratnya akan menyebabkan peningkatan kadar plasma atau peningkatan bioavailabilitas sehingga memungkinkan aktivitas substrat meningkat sampai terjadinya efek samping yang tidak dikehendaki. Berikut ini adalah contoh-contoh interaksi yang melibatkan inhibitor CYP dengan substratnya:
(1) Interaksi terfenadin, astemizol, cisapride (substrat CYP3A4/5) dengan ketokonazol, itrakonazol, etitromisin, atau klaritromisin (inhibitor poten CYP3A4/5) akan meningkatkan kadar substrat, yang menyebabkan toksisitas berupa perpanjangan interval QT yang berakibat terjadinya aritmia ventrikel (torsades de pointes) yang fatal (cardiac infarct)  
(2) Interaksi triazolam, midazolam (substrat) dengan ketokonazol, eritromisin (inhibitor) akan meningkatkan kadar substrat, meningkatkan bioavailabilitas (AUC) sebesar 12 kali, yang berakibat efek sedasi obat-obat sedative di atas meningkat denganjelas. Induktor atau zat yang menginduksi enzim pemetabolis (CYP) akan meningkatkan sistensis enzim tersebut.
Interaksi induktor CYP dengan substratnya menyebabkan laju kecepata metabolisme obat (substrat) meningkat sehingga kadarnya menurun dan efikasi obat akan menurun; atau sebaliknya, induksi CYP menyebabkan meningkatnya pembentukan metabolit yang bersifat reaktif sehingga memungkinkan timbulnya risiko toksik. Berikut adalah contoh contoh interaksi yang melibatkan induktor CYP dengan substratnya:
(1) Kontraseptik oral (hormon estradiol) dengan adanya induktor enzim seperti rifampisin, deksametason, menyebabkan kadar estradiol menurun sehingga efikasi kontraseptik oral menurun.
(2) Asetaminofen (parasetamol) yang merupakan substrat CYP2E1, dengan adanya induktor enzim seperti etanol, ENH, fenobarbital yang diberikan secara terus menerus (kronik), menyebabkan peningkatan metabolisme asetaminofen menjadi metabolit reaktif sehingga meningkatkan risiko terjadinya hepatotoksisitas.
 (3) Teofilin (substrat CYP1A2) pada perokok (hidrokarbon polisiklik aromatik pada asap sigaret adalah induktor CYP1A2), atau jika diberikan bersama karbamazepin (induktor),  akan meningkatkan metabolisme teofilin sehingga diperlukan dosis teofilin lebih tinggi. Tetapi jika pemberian karbamazepindihentikan sementara dosis teofilin tidak diubah, dapat terjadi intoksikasi teofilin yang berat.




















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan  Makanan dan obat dapat berinteraksi dalam banyak cara yang berbeda. Sering, zat tertentu di dalam makanan memberikan efek. Perubahan-perubahan lain dapat disebabkan oleh jumlah protein dalam diet anda, atau bahkan cara makanan tersebut disiapkan. Dalam proses mekanisme. Interaksi farmasetik atau disebut juga inkompatibilitas farmasetik bersifat langsung dan dapat secara fisik atau kimiawi. Interaksi dalam proses farmakokinetik, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi (ADME) dapat meningkatkan ataupun menurunkan kadar plasma obat. Interaksi obat secara farmakokinetik yang terjadi pada suatu obat tidak dapat diekstrapolasikan (tidak berlaku) untuk obat lainnya meskipun masih dalam satu kelas terapi.
3.2. Saran
                  Untuk menghindari interaksi obat pada makanan sebaiknya kenalilah sebanyak mungkin kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-obat yang sering diberikan bersamaan pada makanan. Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan dengan dokter yang meresepkan. Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantum dalam label atau wadah obat. Bahkan obat yang dijual bebas juga perlu aturan pakai yang disarankan.





DAFTAR PUSTAKA

Ashraf Mozayani and Lionel P.Raymon, Handbook of drug interactions: A  
Clinical and Forensic guide 2004

Harkness, Richard, 1989, Interaksi Obat, Penerbit ITB: Bandung.

M. Ashraf and  Raymon L. 2004, Handbook of Drug Interactions: A Clinical and Forensic

Tidak ada komentar:

Posting Komentar